Tentang musik dan nyanyian
عَنْ
اَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ
اَنَّ
النَّبِيَّ ص
مَرَّ
بِبَعْضِ
الْمَدِيْنَةِ
فَاِذَا هُوَ
بِجَوَارٍ
يَضْرِبْنَ
بِدُفّهِنَّ
وَ
يَتَغَنَّيْنَ
وَ يَقُلْنَ:
نَحْنُ
جَوَارٍ مِنْ
بَنِى النَّجَّارِ،
يَا حَبَّذَا
مُحَمَّدٌ
مِنْ جَارٍ.
فَقَالَ
النَّبِيُّ ص:
اَللهُ
يَعْلَمُ اَنّى
َلاُحِبُّكُنَّ.
ابن ماجه 1: 612،
رقم: 1899
Dari Anas bin
Malik, bahwasanya Nabi SAW pernah melewati bagian dari kota Madinah, tiba-tiba
beliau melewati para wanita yang memukul rebana dan bernyanyi, mereka
mengucapkan, “Kami tetangga dari Bani Najjar. Alangkah
baiknya Muhammad sebagai tetanggaku”. Maka Nabi SAW
bersabda, “Allah mengetahui bahwa aku mencintai kalian”. [HR. Ibnu Majah
juz 1, hal. 612, no. 1899]
عَنْ
عَائِشَةَ
اَنَّهَا
زَفَّتِ
امْرَأَةً
اِلىَ رَجُلٍ
مِنَ
اْلاَنْصَارِ
فَقَالَ
نَبِيُّ
اللهِ ص: يَا
عَائِشَةُ،
مَا كَانَ مَعَكُمْ
لَهْوٌ
فَاِنَّ
اْلاَنْصَارَ
يُعْجِبُهُمُ
اللَّهْوُ.
البخارى 6: 140
Dari ‘Aisyah bahwasanya
ia mengantar (mengiring) pengantin perempuan kepada pengantin laki-laki dari
kaum Anshar, lalu Nabiyyullah SAW bersabda, “Hai ‘Aisyah, apakah
tidak ada hiburan pada kalian, karena sesungguhnya orang-orang Anshar itu suka
hiburan”. [HR. Bukhari juz
6, hal. 140]
عَنِ
ابْنِ
عَبَّاسٍ
قَالَ:
اَنْكَحَتْ
عَائِشَةُ
ذَاتَ
قَرَابَةٍ
لَهَا مِنَ
اْلاَنْصَارِ
فَجَاءَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص
فَقَالَ: اَهْدَيْتُمُ
اْلفَتَاةَ؟
قَالُوْا:
نَعَمْ.
قَالَ:
اَرْسَلْتُمْ
مَعَهَا مَنْ
يُغَنّى؟
قَالَتْ: لاَ.
فَقَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص: اِنَّ
اْلاَنْصَارَ
قَوْمٌ
فِيْهِمْ
غَزَلٌ. فَلَوْ
بَعَثْتُمْ
مَعَهَا مَنْ
يَقُوْلُ: اَتَيْنَاكُمْ
اَتَيْنَاكُمْ
فَحَيَّانَا
وَحَيَّاكُمْ.
ابن ماجه 1: 612،
رقم: 1898
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata
: Dahulu ‘Aisyah pernah
menikahkan kerabatnya dari kaum Anshar, lalu Rasulullah SAW datang dan
bersabda, “Apakah kalian mengantarkan wanita (pengantin
perempuan) ?”. Mereka menjawab, “Ya”. Beliau SAW
bertanya, “Apakah kalian mengantarkannya disertai
dengan orang yang akan menyanyi ?”. ‘Aisyah menjawab, “Tidak”. Maka Rasulullah
SAW bersabda, “Sesungguhnya kaum Anshar itu adalah kaum
yang suka hiburan. Alangkah baiknya kalau kalian mengantar dengan disertai
orang yang menyanyikan, “Kami datang kepada
kalian, kami datang kepada kalian, penghormatan kepada kami dan penghormatan
kepada kalian”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612,
no. 1898]
عَنْ
اَبِى
اْلحُسَيْنِ
(اِسْمُهُ
خَالِدٌ الْمَدَنِيُّ)
قَالَ: كُنَّا
بِالْمَدِيْنَةِ
يَوْمَ
عَاشُوْرَاءَ،
وَ
اْلجَوَارِى يَضْرِبْنَ
بِالدُّفّ وَ
يَتَغَنَّيْنَ،
فَدَخَلْنَا
عَلَى الرُّبَيّعِ
بِنْتِ
مُعَوّذٍ،
فَذَكَرْنَا
ذلِكَ لَهَا،
فَقَالَتْ:
دَخَلَ
عَلَيَّ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
صَبِيْحَةَ
عُرْسِي وَ
عِنْدِى جَارِيَتَانِ
يَتَغَنَّيَانِ
وَ تَنْدُبَانِ
آبَائِى
الَّذِيْنَ
قُتِلُوْا
يَوْمَ
بَدْرٍ، وَ
تَقُوْلاَنِ
فِيْمَا
تَقُوْلاَنِ.
وَ فِيْنَا
نَبِيٌّ
يَعْلَمُ مَا
فِى غَدٍ.
فَقَالَ: اَمَّا
هذَا، فَلاَ
تَقُوْلُوْهُ،
مَا يَعْلَمُ
مَا فِى غَدٍ
اِلاَّ اللهُ.
بن ماجه 1: 611،
رقم: 1897
Dari Abul Husain
(nama aslinya Khalid Al-Madaniy), ia berkata : Dahulu ketika kami di Madinah
pada hari ‘Aasyuuraa’, pada waktu itu
ada wanita-wanita sedang memukul rebana dan bernyanyi, lalu kami masuk pada
Rubayyi’ binti Mu’awwidz, lalu kami
ceritakan kepadanya yang demikian itu. Maka dia berkata, “Dahulu Rasulullah
SAW datang kepada saya pada pagi hari pernikahan saya, sedangkan di dekat saya
ada dua wanita yang bernyanyi yang dalam liriknya (isinya) menyebutkan tentang
kebaikan orang-orang tuaku yang gugur di perang Badr, dan diantara yang mereka
nyanyikan adalah, “Dan diantara kita
ada seorang Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi”. Maka (Rasulullah
SAW) menegur, “Adapun kata-kata yang ini jangan kalian
ucapkan, karena tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi besok pagi, kecuali
Allah”. [HR. Ibnu Majah
juz 1, hal. 611, no. 1897]
عَنْ
خَالِدِ بْنِ
ذَكْوَانَ
قَالَ:
قَالَتِ
الرُّبَيّعُ
بِنْتُ
مُعَوّذِ
بْنِ
عَفْرَاءَ،
جَاءَ
النَّبِيُّ ص
فَدَخَلَ
حِيْنَ
بُنِيَ
عَلَيَّ فَجَلَسَ
عَلَى
فِرَاشِى
كَمَجْلِسِكَ
مِنّى فَجَعَلَتْ
جُوَيْرِيَاتٌ
لَنَا
يَضْرِبْنَ
بِالدُّفّ وَ
يَنْدُبْنَ
مَنْ قُتِلَ
مِنْ آبَائِى
يَوْمَ
بَدْرٍ اِذْ
قَالَتْ
اِحْدَاهُنَّ
وَ فِيْنَا
نَبِيٌّ
يَعْلَمُ مَا
فِى غَدٍ.
فَقَالَ:
دَعِى هذِهِ
وَ قُوْلِى
بِالَّذِى
كُنْتِ تَقُوْلِيْنَ.
البخارى 6: 137
Dari Khalid bin
Dzakwan, ia berkata : Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin ‘Afraa’ berkata : Dahulu
Nabi SAW datang lalu masuk ketika diselenggarakan pernikahanku, lalu beliau
duduk di atas tikarku seperti dudukmu di dekatku, lalu anak-anak perempuan kami
mulai menabuh rebana dan bernyanyi dengan menyanjung kepahlawanan orang-orang
tuaku yang gugur pada perang Badr. Ada salah satu diantara mereka yang
bernyanyi yang syairnya, “Di kalangan kita
ada Nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok pagi”. Lalu beliau
bersabda, “Tinggalkanlah ini dan ucapkanlah (nyanyikanlah) apa
yang tadi kamu nyanyikan”. [HR. Bukhari juz
6, hal. 137]
عَنْ
عَائِشَةَ
قَالَتْ:
دَخَلَ
عَلَيَّ اَبُوْ
بَكْرٍ وَ
عِنْدِى
جَارِيَتَانِ
مِنْ جَوَارِى
اْلاَنْصَارِ.
تُغَنّيَانِ
بِمَا
تَقَاوَلَتْ
بِهِ
اْلاَنْصَارُ
فِى يَوْمِ
بُعَاثٍ.
قَالَتْ وَ
لَيْسَتَا
بِمُغَنّيَتَيْنِ.
فَقَالَ
اَبُوْ
بَكْرٍ: اَ
بِمَزْمُوْرِ
الشَّيْطَانِ
فِى بَيْتِ النَّبِيّ
ص، وَ ذلِكَ
فِى يَوْمِ
عِيْدِ اْلفِطْرِ.
فَقَالَ
النَّبِيُّ ص:
يَا اَبَا
بَكْرٍ اِنَّ
لِكُلّ
قَوْمٍ
عِيْدًا وَ
هذَا عِيْدُنَا.
ابن ماجه 1: 612،
رقم: 1898
Dari ‘Aisyah, ia berkata Abu Bakar pernah datang kepada
saya, sedangkan waktu itu ada dua wanita diantara wanita-wanita Anshar yang
bernyanyi dengan syair-syair yang diucapkan orang-orang Anshar pada hari perang
Bu’aats, ‘Aisyah mengatakan
bahwa kedua wanita tersebut pekerjaannya bukan sebagai penyanyi. Lalu Abu Bakar
berkata, “Apakah dengan
seruling syaithan di rumah Nabi SAW ?”. Dan kejadian itu
pada hari raya ‘idul fithri. Maka Nabi SAW bersabda, “Hai Abu Bakar,
sesungguhnya masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan pada hari ini adalah
hari raya kita”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 612, no. 1898]
عَنْ
عَائِشَةَ
اَنَّ اَبَا
بَكْرٍ
دَخَلَ عَلَيْهَا
وَ عِنْدَهَا
جَارِيَتَانِ
فِى اَيَّامِ
مِنًى
تُدَفّفَانِ
وَ تَضْرِبَانِ
وَ
النَّبِيُّ ص
مُتَغَشّ
بِثَوْبِهِ
فَانْتَهَرَهُمَا
اَبُوْ
بَكْرٍ
فَكَشَفَ النَّبِيُّ
ص عَنْ
وَجْهِهِ وَ
قَالَ:
دَعْهُمَا
يَا اَبَا
بَكْرٍ،
فَاِنَّهَا
اَيَّامُ
عِيْدٍ. وَ تِلْكَ
اْلاَيَّامُ
اَيَّامُ
مِنًى. وَ قَالَتْ
عَائِشَةُ:
رَأَيْتُ
النَّبِيَّ ص
يَسْتُرُنِى
وَ اَنَا
اَنْظُرُ
اِلىَ
اْلحَبَشَةِ
وَ هُمْ
يَلْعَبُوْنَ
فِى
الْمَسْجِدِ،
فَزَجَرَهُمْ،
فَقَالَ
النَّبِيُّ ص
دَعْهُمْ اَمْنًا
بَنِى
اَرْفِدَةَ
يَعْنِى مِنَ
اْلاَمْنِ.
البخارى 2: 11
Dari ‘Aisyah, bahwasanya
pada hari Mina Abu Bakar datang kepadanya, sedangkan di dekatnya ada dua wanita
yang bernyanyi dan bermain rebana, sedangkan Nabi SAW menutupi wajahnya dengan
pakaiannya, lalu Abu Bakar membentak kedua wanita (yang bermain rebana tadi),
maka Nabi SAW membuka wajahnya dan bersabda, “Biarkan keduanya
hai Abu Bakar, karena ini adalah hari raya. Dan hari itu adalah hari-hari Mina”. ‘Aisyah berkata, “Aku melihat Nabi
SAW menutupiku, sedangkan aku melihat kaum Habsyi mereka bermain di masjid.
Maka (‘Umar) membentak
mereka”. Lalu Nabi SAW
bersabda, “Biarkanlah aman kaum Bani Arfidah, yakni
dengan aman”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 11]
عَنْ
مُحَمَّدِ
بْنِ حَاطِبٍ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
فَصْلُ
بَيْنَ
اْلحَلاَلِ
وَ اْلحَرَامِ
الدُّفُّ وَ
الصَّوْتُ
فِى النّكَاحِ.
ابن ماجه 1: 611،
رقم: 1896
Dari Muhammad bin Haathib, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Yang membedakan
antara yang halal dan yang haram adalah rebana dan suara (diumumkannya) dalam
pernikahan”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 611, no. 1896]
عَنْ
عَائِشَةَ
عَنِ
النَّبِيّ ص
قَالَ: اَعْلِنُوْا
هذَا
النّكَاحَ،
وَ
اضْرِبُوْا عَلَيْهِ
بِاْلغِرْبَالِ.
ابن ماجه 1: 611،
رقم: 1895
Dari ‘Aisyah, dari Nabi
SAW, beliau bersabda, “Umumkanlah
pernikahan ini, dan pukullah rebana padanya”. [HR. Ibnu Majah
juz 1, hal. 611, no. 1895, dla’if karena di dalam sanadnya ada perawi
bernama Khalid bin Ilyas (Abul Haitsam Al-‘Adawiy)]
عَنْ
بُرَيْدَةَ
قَالَ خَرَجَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص فِيْ
بَعْضِ مَغَازِيْهِ
فَلَمَّا
انْصَرَفَ
جَاءَتْ
جَارِيَةٌ
سَوْدَاءُ
فَقَالَتْ:
يَا رَسُوْلَ
اللهِ اِنّيْ
كُنْتُ
نَذَرْتُ
اِنْ رَدَّكَ
اللهُ
سَالِمًا
اَنْ
اَضْرِبَ
بَيْنَ يَدَيْكَ
بِالدُّفّ وَ
اَتَغَنَّى.
قَالَ لَهَا رَسُوْلُ
اللهِ ص: اِنْ
كُنْتِ
نَذَرْتِ
فَاضْرِبِيْ
وَ اِلاَّ
فَلاَ.
فَجَعَلَتْ
تَضْرِبُ
فَدَخَلَ اَبُوْ
بَكْرٍ وَ
هِيَ
تَضْرِبُ،
ثُمَّ دَخَلَ
عَلِيٌّ وَ
هِيَ
تَضْرِبُ
ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ
وَ هِيَ
تَضْرِبُ
ثُمَّ دَخَلَ
عُمَرُ
فَاَلْقَتِ
الدُّفَّ
تَحْتَ
اِسْتِهَا
ثُمَّ
قَعَدَتْ
عَلَيْهِ.
فَقَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
اِنَّ
الشَّيْطَانَ
لَيَخَافُ
مِنْكَ يَا
عُمَرُ،
اِنّيْ
كُنْتُ
جَالِسًا وَ
هِيَ تَضْرِبُ،
فَدَخَلَ
اَبُوْ
بَكْرٍ وَ
هِيَ تَضْرِبُ،
ثُمَّ دَخَلَ
عَلِيٌّ وَ
هِيَ تَضْرِبُ،
ثُمَّ دَخَلَ
عُثْمَانُ وَ
هِيَ تَضْرِبُ،
فَلَمَّا
دَخَلْتَ
اَنْتَ يَا
عُمَرُ، اَلْقَتِ
الدُّفّ.
الترمذي 5: 285،
رقم: 3773، وصححه
Dari Buraidah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah pergi dalam salah satu
peperangan, ketika beliau kembali, ada seorang wanita berkulit hitam yang
menyambut kedatangan beliau itu sambil mengatakan, “Ya Rasulullah,
sungguh aku telah bernadzar, jika Allah mengembalikan engkau dengan selamat,
aku akan menabuh rebana sambil bernyanyi di hadapanmu. Maka jawab beliau, “Kalau benar kamu
telah bernadzar, maka tabuhlah, tetapi kalau tidak bernadzar, jangan kamu tabuh”. Lalu wanita itu
menabuhnya. Tiba-tiba Abu Bakar masuk ke rumah Nabi SAW, sedang si wanita tadi
masih tetap menabuh. Lalu ‘Ali menyusul
masuk, sedang si wanita tadi masih tetap menabuh. Kemudian ‘Utsman menyusul masuk,
dan si wanita tadi masih tetap menabuh. Lalu datanglah ‘Umar, maka si
wanita tadi (berhenti menabuh) dan menyembunyikan rebananya itu di bawah
pinggulnya lalu mendudukinya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh syaithan
benar-benar takut kepadamu hai ‘Umar. Aku duduk
sedang si wanita itu menabuh rebana, kemudian Abu Bakar masuk, sedang si wanita
itu tetap saja menabuh rebana, menyusul ‘Ali masuk, si
wanita itu tetap menabuh rebana, lalu ‘Utsman masuk,
sedang si wanita itu tetap saja menabuh rebana. Tetapi begitu kamu masuk, maka
wanita itu spontan menyembunyikan rebananya”. [HR. Tirmidzi
juz 5, hal. 285, no. 3773, dan ia menshahihkannya]
Keterangan :
A. Musik atau ma’aazif adalah semua alat yang menimbulkan bunyi-bunyian,
baik dengan cara dipukul, digesek, dipetik, ditiup, ditekan dan lain
sebagainya.
Dari hadits-hadits di atas bisa kita pahami bahwa bermain musik,
melihat, maupun mendengarkan musik adalah sudah ada sejak jaman Nabi SAW, dan
beliaupun tidak melarangnya. Dan bisa pula kita pahami bahwa bermain musik dan
bernyanyi, melihat maupun mendengarkannya, hukumnya adalah mubah (boleh).
B Ada sebagian kaum muslimin yang berpendapat bahwa bermain musik
itu hukumnya haram berdasar hadits-hadits sebagai berikut :
عَنْ
عَبْدِ
الرَّحْمنِ
بْنِ غَنْمٍ
اْلاَشْعَرِيّ
قَالَ:
حَدَّثَنِي
اَبُوْ
عَامِرٍ اَوْ
اَبُوْ
مَالِكٍ
اْلاَشْعَرِيُّ
وَ اللهِ مَا
كَذَبَنِى
سَمِعَ
النَّبِيَّ ص
يَقُوْلُ:
لَيَكُوْنَنَّ
مِنْ
اُمَّتِى
اَقْوَامٌ
يَسْتَحِلُّوْنَ
اْلحِرَّ وَ
اْلحَرِيْرَ
وَ اْلخَمْرَ
وَ
الْمَعَازِفَ
وَ لَيَنْزِلَنَّ
اَقْوَامٌ
اِلىَ جَنْبِ
عَلَمٍ يَرُوْحُ
عَلَيْهِمْ
بِسَارِحَةٍ
لَهُمْ يَأْتِيْهِمْ
لِحَاجَةٍ
فَيَقُوْلُوْا
اِرْجِعْ
اِلَيْنَا
غَدًا
فَيُبَيّتُهُمُ
اللهُ وَ
يَضَعُ
اْلعَلَمَ وَ
يَمْسَخُ
آخَرِيْنَ
قِرَدَةً وَ
خَنَازِيْرَ
اِلىَ يَوْمِ
اْلقِيَامَةِ.
البخاري 6: 243
Dari ‘Abdur Rahman bin
Ghanmin Al-Asy’ariy, ia berkata : Abu ‘Amir atau Abu
Malik Al-Asy’ariy menceritakan kepadaku, demi Allah dia
tidak berbohong kepadaku, bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda, “Sungguh akan ada di kalangan ummatku
kaum-kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan musik, dan beberapa kaum
akan mendatangi tempat yang terletak di dekat gunung tinggi, mereka datang
dengan berjalan kaki untuk suatu keperluan. Lantas mereka (yang didatangi) berkata,
“Kembalilah kepada kami
besok pagi”. Pada malam harinya Allah
menimpakan gunung tersebut kepada mereka, dan (Allah) merubah yang lainnya
menjadi kera dan babi hingga hari qiyamat”. [HR. Bukhari juz
6, hal. 243]
عَنْ
اَبِى
مَالِكِ
اْلاَشْعَرِيّ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
لَيَشْرَبَنَّ
نَاسٌ مِنْ
اُمَّتِى
اْلخَمْرَ
يُسَمُّوْنَهَا
بِغَيْرِ
اسْمِهَا
يُعْزَفُ
عَلَى رُءُوْسِهِمْ
بِالْمَعَازِفِ
وَ
الْمُغَنّيَاتِ،
يَخْسِفُ
اللهُ بِهِمُ
اْلاَرْضَ وَ يَجْعَلُ
مِنْهُمُ
اْلقِرَدَةَ
وَ اْلخَنَازِيْرَ.
ابن ماجة 2: 1333،
رقم:4020
Dari Abu Malik Al-Asy’ariy, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh ada
segolongan dari ummatku yang minum khamr yang mereka menamakannya bukan nama
(asli)nya, kepala mereka disibukkan dengan musik dan biduanita. Allah akan menenggelamkan
mereka ke dalam tanah dan merubah mereka menjadi kera dan babi”. [HR. Ibnu Majah
juz 2, hal. 1333, no. 4020]
عَنِ
ابْنِ
عَبَّاسٍ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ الله
ص: اِنَّ
اللهَ
حَرَّمَ
عَلَيَّ اَوْ
حُرّمَ
اْلخَمْرُ وَ
الْمَيْسِرُ
وَ اْلكُوْبَةُ.
قَالَ: وَ
كُلُّ
مُسْكِرٍ
حَرَامٌ.
قَالَ
سُفْيَانُ:
فَسَأَلْتُ
عَلِيَّ بْنَ
بَذِيْمَةَ
عَنِ
اْلكُوْبَةِ،
قَالَ:
اَلطَّبْلُ.
ابو داود 3: 331،
رقم: 3696
Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata
: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah
mengharamkan kepadaku atau diharamkan (kepadaku) khamr, judi dan Kuubah”. Dan beliau
bersabda, “Setiap yang memabukkan adalah haram”. Sufyan berkata :
Lalu aku bertanya kepada ‘Ali bin Badzimah
tentang arti Kuubah. Ia menjawab, “(Kuubah itu
adalah) tambur”. [HR. Abu Dawud juz 3, hal. 331, no.
3696]
عَنِ
ابْنِ
عَبَّاسٍ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ
ص: اِنَّ
اللهَ
حَرَّمَ
عَلَيْكُمُ
اْلخَمْرَ وَ
الْمَيْسِرَ
وَ
اْلكُوْبَةَ
وَقَالَ: وَ
كُلُّ
مُسْكِرٍ
حَرَامٌ.
احمد 1: 350
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata
: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah
mengharamkan kepada kalian khamr, judi dan Kuubah (tambur), dan beliau
bersabda, “Dan setiap yang memabukkan adalah haram”. [HR. Ahmad juz
1, hal. 350]
عَنْ
عِمْرَانَ
بْنِ
حُصَيْنٍ
اَنَّ رَسُوْلَ
اللهِ ص
قَالَ: فِيْ
هذِهِ
اْلاُمَّةِ
خَسْفٌ وَ
مَسْخٌ وَ
قَذْفٌ. فَقَالَ
رَجُلٌ مِنَ
الْمُسْلِمِيْنَ:
يَا رَسُوْلَ
اللهِ، وَ
مَتَى ذلِكَ؟
قَالَ: اِذَا
ظَهَرَتِ
اْلقِيَانُ
وَ
الْمَعَازِفُ
وَ شُرِبَتِ
اْلخُمُوْرُ.
الترمذي 3: 336،
رقم: 2309
Dari ‘Imran bin Husain bahwa Rasulullah SAW
bersabda, “Pada ummat ini akan ada (siksaan berupa)
ditenggelamkan ke bumi, diganti rupa dan dilempar batu dari langit”. Lalu ada seorang
laki-laki dari kalangan kaum muslimin bertanya, “Ya Rasulullah,
kapan peristiwa itu terjadi ?”. Beliau menjawab,
“Apabila telah
merajalela penyanyi-penyanyi dan musik, dan khamr diminum (dimana-mana)”. [HR. Tirmidzi
juz 3, hal. 336, no. 2309, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Abbaad bin Ya’quub Al-Kuufiy dan
‘Abdullah bin ‘Abdul Qudduus,
keduanya dla’if]
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
اِذَا
اتُّخِذَ
اْلفَيْءُ
دُوَلاً وَ
اْلاَمَانَةُ
مَغْنَمًا وَ
الزَّكَاةُ
مَغْرَمًا وَ
تُعُلّمَ
لِغَيْرِ
الدّيْنِ وَ
اَطَاعَ
الرَّجُلُ
امْرَاَتَهُ
وَ عَقَّ
اُمَّهُ وَ
اَدْنَى
صَدِيْقَهُ
وَ اَقْصَى
اَبَاهُ وَ
ظَهَرَتِ
اْلاَصْوَاتُ
فِي
الْمَسَاجِدِ
وَ سَادَ
اْلقَبِيْلَةَ
فَاسِقُهُمْ
وَ كَانَ
زَعِيْمُ
اْلقَوْمِ
اَرْذَلَهُمْ
و اُكْرِمَ
الرَّجُلُ
مَخَافَةَ
شَرّهِ وَ ظَهَرَتِ
اْلقَيْنَاتُ
وَ
الْمَعَازِفُ
وَ شُرِبَتِ
اْلخُمُوْرُ
وَ لَعَنَ
آخِرُ هذِهِ
اْلاُمَّةِ اَوَّلَهَا
فَلْيَرْتَقِبُوْا
عِنْدَ ذلِكَ
رِيْحًا
حَمْرَاءَ وَ
زَلْزَلَةً
وَ خَسْفًا وَ
مَسْخًا وَ
قَذْفًا
وَآيَاتٍ
تَتَابَعُ
كَنِظَامِ
بَالٍ قُطِعَ
سِلْكُهُ فَتَتَابَعَ.
الترمذي 3: 335،
رقم: 2308
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila harta fai’ (rampasan perang)
sudah dijadikan barang rebutan, amanat (kepemimpinan) dijadikan sebagai barang
ghanimah (rampasan), zakat dihutang (tidak dibayar), dipelajari hal-hal yang
bukan agama, suami tunduk kepada istrinya, ibunya didurhakai, orang lebih dekat
kepada kawannya, sementara ayahnya sendiri dijauhi, suara-suara gaduh di
masjid-masjid, yang menjadi kepala qabilah (kampung) adalah orang yang fasiq,
yang menjadi pemimpin bagi suatu kaum adalah orang yang sangat rendah
akhlaqnya, seseorang disanjung-sanjung karena takut kejahatannya, merajalelanya
penyanyi-penyanyi dan musik, khamr diminum (dimana-mana), generasi yang di
belakang mengutuk generasi pendahulunya, maka di saat yang demikian itu
hendaklah mereka waspada datangnya angin merah, gempa bumi, tenggelam ke dalam
tanah, perubahan (menjadi kera dan babi) dan pelemparan batu dari langit serta
beberapa tanda (kekuasaan Allah) yang akan terjadi berturut-turut seperti
untaian (benda) yang talinya putus, maka akan (berjatuhan benda tersebut)
berturut-turut”. [HR. Tirmidzi juz 3, hal. 335, no. 2308,
dla’if karena di dalam
sanadnya ada perawi bernama Rumaih Al-Judzamiy, ia majhul]
عَنْ
اَبِى
اُمَامَةَ
عَنْ
رَسُوْلِ
اللهِ ص
قَالَ: لاَ
تَبِيْعُوا
اْلقَيْنَاتِ
وَ لاَ
تَشْتَرُوْهُنُّ
وَ لاَ
تُعَلّمُوْهُنَّ
وَ لاَ خَيْرَ
فِيْ
تِجَارَةٍ
فِيْهِنَّ وَ
ثَمَنُهُنَّ
حَرَامٌ وَ
فِيْ مِثْلِ
هذَا
اُنْزِلَتْ
هذِهِ
اْلآيَةُ وَ
مِنَ
النَّاسِ
مَنْ
يَّشْتَرِيْ
لَهْوَ اْلحَدِيْثِ
لِيُضِلَّ
عَنْ
سَبِيْلِ
اللهِ (اِلى
آخِرِ
اْلآيَةِ). الترمذي
5: 25، رقم: 3247
Dari Abu Umamah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Janganlah kalian
menjual penyanyi-penyanyi wanita, jangan kalian membeli mereka dan jangan pula
kalian ajari mereka itu, karena sama sekali tidak ada kebaikannya
memperdagangkan mereka itu, dan hasilnya pun haram, dan seperti ini, diturunkan
ayat (yang artinya), “Diantara manusia
ada yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (orang) lain
dari jalan Allah, (QS Luqman : 6) sampai akhir ayat”. [HR. Tirmidzi juz
5, hal. 25, no. 3247, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama ‘Ali bin Yazid bin
Abi Hilaal].
عَنْ
مُجَاهِدٍ
قَالَ: كُنْتُ
مَعَ ابْنِ عُمَرَ
فَسَمِعَ
صَوْتَ
طَبْلٍ
فَاَدْخَلَ اِصْبَعَيْهِ
فِى
اُذُنَيْهِ،
ثُمَّ تَنَحَّى
حَتَّى
فَعَلَ ذلِكَ
ثَلاَثَ
مَرَّاتٍ،
ثُمَّ قَالَ:
هكَذَا
فَعَلَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص.
ابن ماجه 1: 612
Dari Mujahid, ia berkata : Dahulu ketika saya bersama Ibnu ‘Umar, tiba-tiba
mendengar suara tambur, lalu (Ibnu ‘Umar) memasukkan
kedua jarinya ke kedua telinganya, kemudian ia mundur, sehingga berbuat
demikian tiga kali. Kemudian ia berkata, “Demikianlah dahulu
Rasulullah SAW berbuat”. [HR. Ibnu Majah
juz 1, hal. 611, no. 1901, dla’if karena dalam sanadnya ada perawi bernama
Laits bin Abi Sulaim]
Keterangan :
Dari hadits-hadits yang mereka pakai dasar haramnya bermain musik
tersebut, kalau kita fahami bahwa bermain musik itu haram, tentu berlawanan
dengan hadits-hadits yang di depan yang membolehkan bermain musik.
Oleh sebab itu, kami memahami maksud hadits tersebut bahwa Nabi SAW
memberitahukan akan terjadi zaman kerusakan ummat, dimana orang-orang sudah
tidak mempedulikan lagi halal-haram, dan merajalelanya pergaulan bebas dan
perzinaan, yang biasanya dibarengi dengan minuman keras, penyanyi atau penari
dan musik. Walloohu a’lam.



0 komentar:
Posting Komentar