Tampilkan postingan dengan label Brosur MTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brosur MTA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juni 2014

Ruqyah

Ruqyah (jampi-jampi) yang dibolehkan
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ اْلاَشْجَعِيّ قَالَ: كُنَّا نَرْقِى فِى اْلجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِى ذلِكَ؟ فَقَالَ: اِعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ. لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ. مسلم 4: 1727
Dari Auf bin Malik Al-Asyjaiy ia berkata, Dahulu kami biasa melakukan jampi-jampi di masa Jahiliyah, lalu kami bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang yang demikian itu ?. Rasulullah SAW menjawab, Perlihatkanlah dulu kepadaku bagaimana jampi-jampi kalian. Tidak mengapa menjampi selama tidak mengandung syirik. [HR. Muslim juz 4, hal.1727]
عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ اَنَّ نَاسًا مِنْ اَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ ص كَانُوْا فِى سَفَرٍ فَمَرُّوْا بِحَيّ مِنْ اَحْيَاءِ اْلعَرَبِ فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَلَمْ يُضِيْفُوْهُمْ. فَقَالُوْا لَهُمْ: هَلْ فِيْكُمْ رَاقٍ؟ فَاِنَّ سَيّدَ اْلحَيّ لَدِيْغٌ اَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: نَعَمْ، فَاَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ، فَاُعْطِيَ قَطِيْعًا مِنْ غَنَمٍ، فَاَبَى اَنْ يَقْبَلَهَا وَ قَالَ حَتَّى اَذْكُرَ ذلِكَ لِلنَّبِيّ ص فَاَتَى النَّبِيَّ ص فَذَكَرَ ذلِكَ لَهُ. فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ اللهِ مَا رَقَيْتُ اِلاَّ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَ قَالَ: وَ مَا اَدْرَاكَ اَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ ثُمَّ قَالَ خُذُوْا مِنْهُمْ وَ اضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ. و فى رواية : فَجَعَلَ يَقْرَأُ اُمَّ اْلقُرْآنِ، وَ يَجْمَعُ بُزَاقَهُ، وَ يَتْفُلُ فَبَرَأَ الرَّجُلُ. مسلم 4: 1727
Dari Abu Said Al-Khudriy bahwasanya beberapa orang diantara shahabat Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan (musafir) lalu mereka melewati suatu kampung dari kampung-kampung Arab. Mereka berharap bisa menjadi tamu di kampung tersebut, tetapi penduduk kampung itu tidak mau menerimanya. Lalu penduduk kampung tersebut bertanya kepada mereka, Apakah diantara kalian ada orang yang bisa menjampi ?. Karena kepala kampung di sini baru terkena sengatan. Seorang dari rombongan sahabat itu menjawab, Ya, ada. Lalu shahabat tersebut datang kepada kepala kampung tersebut dan menjampinya dengan Surat Al-Fatihah. Ternyata kepala kampung itu sembuh, lalu shahabat tersebut diberi upah beberapa ekor kambing. Tetapi shahabat yang menjampinya itu tidak mau mengambilnya dan berkata, Saya akan menyam-paikannya dulu kepada Nabi SAW. Kemudian dia datang kepada Nabi SAW dan menceritakan hal tersebut kepada beliau. Ia berkata, Ya Rasulullah, demi Allah saya tidak menjampi kecuali dengan membacakan surat Al-Fatihah. Maka Nabi SAW tersenyum dan bersabda, Darimana kau tahu bahwa surat Al-Fatihah itu bisa untuk menjampi ?. Lalu beliau bersabda, Ambillah (kambing-kambing itu) dari mereka dan ikutkan saya dalam pembagian kalian. Dan dalam riwayat lain disebutkan, shahabat itu lalu membaca Ummul Quran (Al-Fatihah) dan mengumpulkan ludahnya lalu meludahkannya (pada yang sakit), maka sembuhlah kepala kampung itu. [HR. Muslim juz 4, hal.1727]
Keterangan :
Dalam riwayat Ibnu Hibban juz 13 hal. 476 no. 6112 bahwa kambing tersebut berjumlah 30 ekor.
عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ قَالَ: نَزَلْنَا مَنْزِلاً فَاَتَتْنَا امْرَأَةٌ فَقَالَتْ: اِنَّ سَيّدَ اْلحَيّ سَلِيْمٌ لُدِغَ. فَهَلْ فِيْكُمْ مِنْ رَاقٍ؟ فَقَامَ مَعَهَا رَجُلٌ مِنَّا. مَا كُنَّا نَظُنُّهُ يُحْسِنُ رُقْيَةً. فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ فَبَرَأَ فَاَعْطَوْهُ غَنَمًا، وَ سَقَوْنَا لَبَنًا فَقُلْنَا: اَكُنْتَ تُحْسِنُ رُقْيَةً؟ فَقَالَ: مَا رَقَيْتُهُ اِلاَّ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ. قَالَ، فَقُلْتُ: لاَ تُحَرّكُوْهَا حَتَّى نَأْتِيَ النَّبِيَّ ص فَاَتَيْنَا النَّبِيَّ ص فَذَكَرْنَا ذلِكَ لَهُ، فَقَالَ: مَا كَانَ يَدْرِيْهِ اَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ اِقْسِمُوْا وَ اضْرِبُوْا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ. مسلم 4: 1728
Dari Abu Said Al-Khudriy, ia berkata, Kami sedang beristirahat di suatu tempat, tiba-tiba seorang wanita datang kepada kami dan berkata, Sesungguhnya kepala kampung kami sedang sakit karena tersengat kalajengking. Apakah diantara kalian ada yang bisa menjampi ?. Maka seseorang diantara kami berdiri lalu pergi bersama wanita itu. Kami tidak menduga sebelumnya, bahwa teman kami itu pandai menjampi. Lalu dia menjampi kepala kampung itu dengan membaca surat Al-Fatihah, maka sembuhlah (kepala kampung itu). Lalu orang-orang kampung memberinya kambing dan memberi kami minum susu. Kami bertanya kepada teman kami, Apakah engkau memang pandai menjampi ?. Dia menjawab, Aku hanya menjampinya dengan surat Al-Fatihah. Aku (Abu Said) berkata, Jangan kalian apa-apakan dulu kambing itu sebelum kita datang melapor kepada Nabi SAW. Kemudian kami datang kepada Nabi SAW dan menuturkan hal itu kepada beliau. Mendengar penuturan kami beliau bersabda, Bukankah tidak ada yang memberitahu, bahwa surat Al-Fatihah itu bisa untuk menjampi ? Bagilah kambing-kambing itu dan berilah aku bagian bersamamu. [HR. Muslim juz 4, hal.1728]
عَنْ اَنَسٍ قَالَ: رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ ص فِى الرُّقْيَةِ مِنَ اْلعَيْنِ وَ اْلحُمَةِ وَ النَّمْلَةِ. مسلم 4: 1725
Dari Anas (bin Malik), ia berkata, Rasulullah SAW memperbolehkan menjampi untuk mengatasi sakit mata, racun dan luka di lambung. [HR. Muslim juz 4, hal. 1725]
عَنْ اَبِى الزُّبَيْرِ اَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ: اَرْخَصَ النَّبِيُّ ص فِى رُقْيَةِ اْلحَيَّةِ لِبَنِى عَمْرٍو، قَالَ اَبُو الزُّبَيْرِ: وَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُوْلُ: لَدَغَتْ رَجُلاً مِنَّا عَقْرَبٌ وَ نَحْنُ جُلُوْسٌ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَرْقِى؟ قَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ اَنْ يَنْفَعَ اَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ.
Dari Abuz Zubair bahwasanya ia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Nabi SAW membolehkan Bani Amir menjampi (karena digigit) ular. Abuz Zubair berkata, Dan aku mendengar Jabir bin Abdullah berkata, Seseorang diantara kami tersengat kalajengking. Ketika itu kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW. Lalu ada orang bertanya, Ya Rasulullah, bolehkah aku menjampinya ? Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa diantara kalian bisa menolong saudaranya (kawannya), hendaklah dia lakukan. [HR. Muslim juz 4, hal.1726]
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِى بِهَا مِنَ اْلعَقْرَبِ وَ اِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى. قَالَ: فَعَرَضُوْهَا عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَا اَرَى بَأْسًا مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ اَنْ يَنْفَعَ اَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ. مسلم 4: 1726
Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW melarang jampi-jampi. Lalu datanglah keluarga Amr bin Hazm kepada Rasulullah SAW. Mereka berkata, Ya Rasulullah, kami mempunyai jampi-jampi yang bisa untuk menjampi sengatan kalajengking. Sedangkan engkau melarang jampi-jampi. Lalu mereka memperlihatkan jampi-jampi mereka kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW bersabda, Aku kira tidak apa-apa. Barangsiapa diantara kalian bisa menolong saudaranya, hendaklah dia lakukan. [HR. Muslim juz 4, hal.1726]
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص اِذَا مَرِضَ اَحَدٌ مِنْ اَهْلِهِ نَفَثَ عَلَيْهِ بِالْمُعَوّذَاتِ. فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَهُ الَّذِيْ مَاتَ فِيْهِ جَعَلْتُ اَنْفُثُ عَلَيْهِ وَ اَمْسَحُهُ بِيَدِ نَفْسِهِ ِلاَنَّهَا كَانَتْ اَعْظَمَ بَرَكَةً مِنْ يَدِى. مسلم 4: 1723
Dari Aisyah, ia berkata, Dahulu Rasulullah SAW apabila salah seorang anggota keluarganya ada yang sakit, beliau meniupkan padanya Al-Muawwidzaat. Maka ketika beliau sakit yang menyebabkan beliau wafat, aku meniupkannya pada beliau, dan aku mengusapkan dengan tangan beliau sendiri, karena tangan beliau lebih besar berkahnya dari pada tanganku. [HR. Muslim juz 4, hal. 1723]
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا اَخَذَ مَضْجَعَهُ نَفَثَ فِى يَدَيْهِ وَ قَرَأَ بِاْلمُعَوّذَاتِ وَ مَسَحَ بِهِمَا جَسَدَهُ. البخارى 7: 149
Dari Aisyah RA bahwasanya Rasulullah SAW apabila akan tidur, beliau menghembuskan pada kedua tangannya, dan membaca Muawwidzaat (surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas), kemudian mengusapkan kedua tangannya ke tubuhnya. [HR. Bukhari juz 7, hal. 149]
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا اَوَى اِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا فَقَرَأَ فِيْهِمَا قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ وَ قُلْ اَعُوْذُ بِرَبّ اْلفَلَقِ وَ قُلْ اَعُوْذُ بِرَبّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَ وَجْهِهِ وَ مَا اَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ. يَفْعَلُ ذلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. البخارى 6:
Dari Aisyah, bahwasanya Nabi SAW apabila akan tidur setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, kemudian menghembus keduanya, lalu membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas, kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangannya itu ke seluruh tubuhnya semaksimalnya, beliau memulai dari kepala, wajah dan apa yang bisa dijangkau. Beliau melakukan yang demikian tiga kali. [HR. Bukhari juz 6, hal. 106]
قَالَ اَنَسٌ لِثَابِتٍ: اَلاَ اَرْقِيْكَ بِرُقْيَةِ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَ: بَلَى. قَالَ: اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ، اشْفِ اَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِيَ اِلاَّ اَنْتَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا. البخارى 7:
Anas berkata kepada Tsaabit (yang sedang sakit), Maukah kamu aku ruqyah (jampi), sebagaimana Rasulullah SAW meruqyah ?. Tsaabit berkata, Mau. Anas berkata, Alloohumma robban-naas mudzhibal baasi, isyfi antasy-syaafii laa syaafiya illaa anta syifaa-an laa yughoodiru saqoma (Ya Allah Tuhannya seluruh manusia yang menghilangkan gangguan (penyakit), sembuhkanlah dia, Engkaulah Penyembuh yang tidak ada penyembuh kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak kambuh lagi). [HR. Bukhari juz 7 hal. 24]
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يُعَوّذُ بَعْضَ اَهْلِهِ يَمْسَحُ بِيَدِهِ اْليُمْنَى وَ يَقُوْلُ: اللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ اَذْهِبِ الْبَاسَ وَ اشْفِهِ وَ اَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ اِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا. البخارى 7: 24
Dari Aisyah RA bahwasanya Nabi SAW memohonkan perlindungan untuk sebagian keluarganya, beliau mengusap dengan tangan kanannya, lalu berdoa, Alloohumma robban-naas adzhibil baasa wasyfihi wa antasy-syaafii laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughoodiru saqoma (Ya Allah Tuhannya seluruh manusia, hilangkanlah penyakitnya, dan sembuhkanlah dia, dan Engkaulah penyembuh yang tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak kambuh lagi). [HR. Bukhari juz 7, hal. 24]
Keterangan :
Dari hadits-hadits diatas bisa dipahami bahwa ruqyah (jampi-jampi) yang tidak mengandung syirik itu tidak dilarang. Menurut riwayat Bukhari di atas, Nabi SAW biasa melakukan ruqyah ketika akan tidur, yaitu menghembus pada kedua tapak tangan yang disatukan dan membaca surat Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas, lalu mengusapkan ke seluruh badan semaksimalnya. Dan ketika Nabi SAW menjenguk orang sakit, beliau juga melakukan ruqyah dengan membaca doa bagi orang sakit.
Petunjuk Nabi SAW tentang wabah yang berjangkit di suatu daerah
عَنْ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَلطَّاعُوْنُ آيَةُ الرّجْزِ اِبْتَلَى اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِهِ نَاسًا مِنْ عِبَادِهِ. فَاِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فَلاَ تَدْخُلُوْا عَلَيْهِ. وَ اِذَا وَقَعَ بِاَرْضٍ وَ اَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَفِرُّوْا مِنْهُ. مسلم 4: 1738
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata : Rasulullah SAW besabda, Penyakit thaun (lepra) adalah tandanya hukuman (siksa). Dengan penyakit tersebut Allah Azza wa Jalla menguji manusia dari hamba-hamba-Nya. Maka apabila kalian mendengar penyakit tersebut menimpa (suatu daerah), janganlah kalian masuk ke daerah itu. Dan apabila menimpa suatu daerah sedangkan (pada waktu itu) kamu berada padanya, maka janganlah kalian lari darinya. [HR. Muslim juz 4, hal.1738]
عَنْ اُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ قَالَ: اِنَّ هذَا اْلوَجَعَ اَوِ السَّقَمَ رِجْزٌ عُذّبَ بِهِ بَعْضُ اْلاُمَمِ قَبْلَكُمْ. ثُمَّ بَقِيَ بَعْدُ بِاْلاَرْضِ فَيَذْهَبُ اْلمَرَّةَ وَ يَأْتِى اْلاُخْرَى. فَمَنْ سَمِعَ بِهِ بِاَرْضٍ فَلاَ يَقْدَمَنَّ عَلَيْهِ وَ مَنْ وَقَعَ بِاَرْضٍ وَ هُوَ بِهَا فَلاَ يُخْرِجَنَّهُ اْلفِرَارُ مِنْهُ. مسلم 4: 1738
Dari Usamah bin Zaid, dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda, Sesungguhnya sakit (lepra) ini atau penyakit ini adalah suatu siksa (hukuman) yang dengannya sebagian ummat-ummat sebelum kalian dahulu disiksa. Kemudian setelah itu penyakit tersebut menetap di bumi. Lalu penyakit itu suatu saat hilang, dan suatu saat datang lagi. Maka barangsiapa yang mendengar bahwa penyakit thaun tersebut menimpa di suatu daerah, janganlah sekali-kali ia datang kepadanya. Dan barangsiapa yang berada di suatu daerah yang sedang ditimpa penyakit tersebut, maka jangan sekali-kali dia keluar karena ingin menghindari. [HR. Muslim juz 4, hal.1738]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ، اَنَّ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ خَرَجَ اِلَى الشَّامِ حَتَّى اِذَا كَانَ بِسَرْغٍ لَقِيَهُ اَهْلُ اْلاَجْنَادِ اَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ اْلجَرَّاحِ وَ اَصْحَابُهُ. فَاَخْبَرَهُ اَنَّ اْلوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَقَالَ عُمَرُ: اُدْعُ لِيَ اْلمُهَاجِرِيْنَ اْلاَوَّلِيْنَ. فَدَعَوْتُهُمْ، فَاسْتَشَارَهُمْ وَ اَخْبَرَهُمْ اَنَّ اْلوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ. فَاخْتَلَفُوْا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: قَدْ خَرَجْتَ ِلاَمْرٍ وَ لاَ نَرَى اَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ. وَ قَالَ بَعْضُهُمْ: مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَ اَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ ص. وَ لاَ نَرَى اَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هذَا اْلوَبَاءِ. فَقَالَ: اِرْتَفِعُوْا عَنّى. ثُمَّ قَالَ: اُدْعُ لِيَ اْلاَنْصَارَ فَدَعَوْتُهُمْ لَهُ. فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوْا سَبِيْلَ اْلمُهَاجِرِيْنَ، وَ اخْتَلَفُوْا كَاخْتِلاَفِهِمْ. فَقَالَ: اِرْتَفِعُوْا عَنّى. ثُمَّ قَالَ: اُدْعُ لِى مَنْ كَانَ ههُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مَهَاجِرَةِ اْلفَتْحِ. فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ رَجُلاَنِ. فَقَالُوْا نَرَى اَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَ لاَ تُقْدِمْهُمْ عَلَى هذَا اْلوَبَاءِ. فَنَادَى عُمَرُ فِى النَّاسِ. اِنِّى مُصْبِحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَاَصْبِحُوْا عَلَيْهِ. فَقَالَ اَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ اْلجَرَّاحِ: أَ فِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللهِ؟ فَقَالَ عُمَرُ: لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا اَبَا عُبَيْدَةَ. (وَ كَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُ). نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ اِلَى قَدَرِ اللهِ. أَ رَاَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ اِبِلٌ فَهَبَطْتَ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ اِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَ اْلاُخْرَى جَدْبَةٌ أَ لَيْسَ اِنْ رَعَيْتَ اْلخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ، وَ اِنْ رَعَيْتَ اْلجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ؟ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ عَوْفٍ، وَ كَانَ مُتَغَيّبًا فِى بَعْضِ حَاجَتِهِ، فَقَالَ: اِنَّ عِنْدِى مِنْ هذَا عِلْمًا. سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِاَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوْا عَلَيْهِ. وَ اِذَا وَقَعَ بِاَرْضٍ وَ اَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ. قَالَ: فَحَمِدَ اللهَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ ثُمَّ انْصَرَفَ. مسلم 4: 1740
Dari Abdullah bin Abbas, bahwasanya Umar bin Khaththab pergi ke negeri Syam. Ketika Umar sampai di kota Saragh (kota di pinggiran Syam dari arah Hijaz), dia ditemui oleh pimpinan-pimpinan beberapa kota di Syam, yaitu Ubaidah bin Jarrah dan shahabat-shahabatnya. Mereka memberitahu Umar bahwa wabah sedang berjangkit di negeri Syam. Ibnu Abbas berkata, Umar lalu berkata, Panggilkan untukku orang-orang Muhajirin yang pertama. Lalu aku panggilkan mereka. Kemudian Umar bermusyawarah dengan mereka dan memberitahu mereka bahwa wabah telah berjangkit di negeri Syam. Lalu mereka berbeda pendapat. Sebagian mereka berkata, Sungguh engkau keluar untuk suatu urusan yang penting, maka kami tidak setuju kalau kamu kembali. Dan sebagian mereka berkata, Engkau diikuti oleh orang banyak dan shahabat-shahabat Rasulullah SAW, maka kami tidak setuju kalau kamu membawa mereka itu menuju ke wabah ini. Lalu Umar berkata, Tinggalkanlah aku. Kemudian dia berkata, Panggilkan untukku orang-orang Anshar. (Ibnu Abbas) berkata, Lalu aku panggilkan mereka. Kemudian Umar bermusyawarah dengan mereka. Dan ternyata orang-orang Anshar itupun sama seperti orang-orang Muhajirin tadi, yaitu orang-orang Anshar itu berbeda pendapat seperti orang-orang Muhajirin. Maka Umar berkata, Tinggalkanlah aku !. Kemudian Umar berkata, Panggilkan untukku sesepuh-sesepuh Quraisy yang hijrah pada waktu Fathu Makkah (orang-orang yang masuk Islam sebelum Fathu Makkah) ! Maka aku panggilkan mereka itu. Dan ternyata mereka itu satu pendapat, tidak terjadi perbedaan pendapat diantara dua orang. Mereka berkata : Kami berpendapat, bahwasanya engkau harus kembali membawa orang-orang ini dan jangan engkau membawa mereka datang ke wabah itu. Kemudian Umar menyeru kepada orang banyak, Sesungguhnya aku bersiap-siap naik kendaraan untuk pulang, maka bersiap-siaplah kalian !. Maka Abu Ubaidah bin Jarrah berkata, Apakah akan lari dari taqdir Allah ?. Umar menjawab, Seandainya bukan kamu yang mengatakan begitu hai Abu Ubaidah, (saya tidak heran). Dan Umar tidak suka berselisih dengannya. (Umar berkata ), Ya, kita lari dari taqdir Allah menuju kepada taqdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu, kalau kamu mempunyai onta yang kamu bawa turun ke suatu lembah yang mempunyai dua sisi, yang satu subur dan yang satunya lagi tandus. Bukankah jika kamu menggembalakannya pada sisi yang subur itu berarti kamu menggembalakannya dengan taqdir Allah ? Dan jika kamu menggembalakannya pada sisi yang tandus itupun berarti kamu menggembalakannya dengan taqdir Allah ?. Kemudian Abdurrahman bin Auf datang dari (bepergian karena) suatu keperluan. Kemudian ia berkata, Sesungguhnya saya mempunyai ilmu tentang hal ini. Saya pernah mendengar Raulullah SAW bersabda, Apabila kalian mendengar di suatu daerah (terjangkit wabah), maka janganlah kalian masuk ke daerah itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di suatu daerah sedang kamu berada padanya, maka janganlah kalian keluar melarikan diri dari daerah tersebut. (Ibnu Abbas) berkata, Lalu Umar bin Khaththab memuji Allah, kemudian kembali dan meninggalkan tempat itu. [HR. Muslim juz 4, hal. 1740]

Khitan

Khitan

1. Sejarah Khitan
Khitan sudah dilakukan orang sejak ribuan tahun yang lalu. Dan riwayat yang paling kuat menunjukkan bahwa khitan itu pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, sebagaimana riwayat berikut :
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ بَعْدَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً وَاخْتَتَنَ بِالْقَدُوْمِ. البخارى 7: 143
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Nabi Ibrahim AS berkhitan setelah berusia delapan puluh tahun dan beliau khitan dengan menggunakan kampak”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 143]
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اخْتَتَنَ اِبْرَاهِيْمُ النَّبِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ هُوَ ابْنُ ثَمَانِيْنَ سَنَةً بِالْقَدُوْمِ. مسلم 4: 1839
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda, "Nabi Ibrahim 'AS berkhitan saat beliau berusia delapan puluh tahun dengan menggunakan kampak". [HR. Muslim juz 4, hal. 1839]
Keterangan :
Kalau dibaca bilqoduum, artinya dengan kampak, tetapi kalau dibaca bilqodduum, artinya di kota Qoddum, di daerah Syam.
Mulai saat itulah khitan telah menjadi syari’at (peraturan) pada ummat Nabi Ibrahim dan keturunannya. Nabi Muhammad SAW meneruskan syari’at itu untuk dilaksanakan oleh ummatnya.
Telah kita ketahui bahwa pokok-pokok ajaran yang telah disampaikan Allah kepada Nabi Ibrahim AS pada umumnya diteruskan dan dilaksanakan oleh Rasulullah SAW, sehingga menjadi ajaran Islam.
Di dalam Al-Qur’an Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan firman-Nya :
ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرهِيْمَ حَنِيْفًا. وَمَا كَانَ مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ. النحل:123
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. [QS. An-Nahl : 123]
Dari perintah Allah tersebut maka banyak kita ketahui ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk ummatnya (ummat Islam), seperti ibadah hajji, qurban dan termasuk khitan, meneruskan apa yang telah disyari’atkan kepada Nabi Ibrahim AS.
2. Anjuran untuk berkhitan
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ، اَلْخِتَانُ وَ اْلاِسْتِحْدَادُ وَ نَتْفُ اْلاِبْطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ وَ تَقْلِيْمُ اْلاَظْفَارِ. البخارى 7: 143
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, :Fithrah itu ada lima : 1. Khitan, 2. Mencukur rambut kemaluan, 3. Mencabut bulu ketiak, 4. Memotong kumis, dan 5. Memotong kuku”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 143]
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: الْفِطْرَةُ خَمْسٌ اَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ، اْلخِتَانُ وَ اْلاِسْتِحْدَادُ وَ تَقْلِيْمُ اْلاَظْفَارِ وَ نَتْفُ اْلاِبِطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ. مسلم 1: 221
Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Fithrah itu ada lima, atau lima hal termasuk fithrah, yaitu : 1. khitan, 2. mencukur bulu kemaluan, 3. memotong kuku, 4. mencabut bulu ketiak, dan 5. Memotong kumis”. [HR. Muslim juz 1, hal. 221]
Keterangan :
Fithrah, bisa berarti sunnah, kebiasaan yang dilakukan oleh para Nabi, dan bisa pula berarti Ad-Diin (agama).
عَنْ عُثَيْمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ اَنَّهُ جَاءَ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَ: قَدْ اَسْلَمْتُ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: اَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ. يَقُوْلُ احْلِقْ. قَالَ: وَ اَخْبَرَنِي آخَرُ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ ِلآخَرَ مَعَهُ: اَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَ اخْتَتِنْ. ابو داود 1: 98، رقم: 356
Dari 'Utsaim bin Kulaib dari Ayahnya dari kakeknya bahwasanya dia pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata; Saya masuk Islam. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, "Buanglah rambut kafirmu". Maksudnya, "Cukurlah". Dan (ayahnya ‘Utsaim) berkata : Shahabat yang lain telah mengkhabarkan kepadaku bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada orang lain yang bersamanya, "Cukurlah rambut kafirmu dan berkhitanlah". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 98, no. 356]
Keterangan :
Hadits ini dla’if, karena sanadnya munqathi’ sedangkan ‘Utsaim dan ayahnya adalah majhul. Demikian dikatakan oleh Ibnul Qaththan, dalam Talkhiishul Habiir juz 4, hal. 223, no. 1806. Dan ‘Abdaan berkata : ‘Utsaim adalah putranya Katsiir, sedangkan Katsiir putranya Kulaib, Kulaib adalah seorang shahabat.

3. Definisi Khitan

Khitan menurut bahasa artinya “yang dipotong”. Asal katanya : Khotana – yakhtinu – khotnan, artinya “memotong”.
Adapun menurut ‘ulama fiqh, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi sebagai berikut :
اَلْخِتَانُ هُوَ فِى الذَّكَرِ قَطْعُ جَمِيْعِ اْلجِلْدَةِ الَّتِى تُغَطّى اْلحَشَفَةَ حَتَّى تَنْكَشِفَ جَمِيْعُ اْلحَشَفَةِ، وَ فِى اْلاُنْثَى قَطْعُ اَدْنَى جُزْءٍ مِنَ اْلجِلْدَةِ الَّتِى فِى اَعْلاَ اْلفَرْجِ.
Khitan bagi laki-laki ialah memotong semua kulit yang menutupi kepala dzakar, sehingga terbuka kepala dzakar seluruhnya. Sedangkan bagi wanita ialah memotong sedikit bagian berupa kulit yang berada di atas lubang kemaluan (yang menutup kelenthit). [Diambil dari Syarah Muslim oleh Imam Nawawiy]
4. Waktunya berkhitan
Tidak ada ketentuan dalam agama umur berapa anak harus dikhitan. Ada beberapa riwayat sebagai berikut :
عَنْ عُثَيْمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ جَدّهِ اَنَّهُ جَاءَ اِلَى النَّبِيّ ص فَقَالَ: قَدْ اَسْلَمْتُ. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: اَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ. يَقُوْلُ احْلِقْ. قَالَ: وَ اَخْبَرَنِي آخَرُ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ ِلآخَرَ مَعَهُ: اَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَ اخْتَتِنْ. ابو داود 1: 98، رقم: 356
Dari 'Utsaim bin Kulaib dari Ayahnya dari kakeknya bahwasanya dia pernah datang kepada Nabi SAW seraya berkata; Saya masuk Islam. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, "Buanglah rambut kafirmu". Maksudnya, "Cukurlah". Dan (ayahnya ‘Utsaim) berkata : Shahabat yang lain telah mengkhabarkan kepadaku bahwasanya Nabi SAW bersabda kepada orang lain yang bersamanya, "Cukurlah rambut kafirmu dan berkhitanlah". [HR. Abu Dawud juz 1, hal. 98, no. 356]
اِنَّ النَّبِيَّ ص خَتَنَ اْلحَسَنَ وَ اْلحُسَيْنَ يَوْمَ السَّابِعِ مِنْ وِلاَدَتِهِمَا.
Sesungguhnya Nabi SAW mengkhitan Hasan dan Husein pada hari ketujuh dari kelahirannya. [HR. Hakim dan Baihaqi, dari ‘Aisyah, dalam Talkhiishul Habiir juz 4, hal. 226, no. 1808]
Keterangan :
Kami telah merunut pada kitab Mustadrak Al-Hakim, dan pada kitab Sunanul Kubra. Baihaqiy yang dari riwayat ‘Aisyah, tidak kami dapatkan kata-kata “Nabi SAW mengkhitan Hasan dan Husein pada hari ketujuh”. Walloohu a’lam.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: عَقَّ رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ اْلحَسَنِ وَ اْلحُسَيْنِ وَ خَتَنَهُمَا لِسَبْعَةِ اَيَّامٍ. البيهقى 8: 324

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW mengaqiqahi Hasan dan Husein dan mengkhitan keduanya pada hari ketujuh”. [HR. Baihaqiy juz 8, hal. 324]
Keterangan :
Hadits ini dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Muhammad bin Mutawakkil, yang dilemahkan oleh Al-Albaniy di dalam Al-Irwaa’ul Ghaliil juz 4, hal. 383]
عَنْ سَعِيْدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: سُئِلَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مِثْلُ مَنْ اَنْتَ حِيْنَ قُبِضَ النَّبِيُّ ص؟ قَالَ: اَنَا يَوْمَئِذٍ مَخْتُوْنٌ. قَالَ: وَ كَانُوْا لاَ يَخْتِنُوْنَ الرَّجُلَ حَتَّى يُدْرِكَ. البخارى 7: 144
Dari Sa’id bin Jubair, ia berkata : Ibnu ‘Abbas ditanya, “Seperti siapakah engkau ketika Nabi SAW wafat ?”. Ia menjawab, “Saya pada waktu itu telah dikhitan. (Ibnu ‘Abbas) berkata : Dan mereka (para shahabat) tidak mengkhitan anak laki-laki melainkan setelah baligh”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 144]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قُبِضَ النَّبِيُّ ص وَ اَنَا خَتِيْنٌ. البخارى 7: 144
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Ketika Nabi SAW wafat, saya sudah dikhitan. [HR. Bukhari juz 7, hal. 144]
5. Hukumnya Khitan
‘Ulama berbeda pendapat dalam menentukan hukum Khitan.
1.  Ada yang berpendapat bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki maupun perempuan.
2.  Ada yang berpendapat bahwa khitan itu sunnah, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
3.  Ada yang berpendapat bahwa khitan itu wajib bagi laki-laki, tetapi tidak wajib bagi perempuan.
6. Tentang Khitan bagi wanita
Tentang Khitan bagi wanita ini terjadi berbedaan pendapat dalam memahami dalil-dalil yang ada. Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa wanita juga harus berkhitan. Adapun dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْفِطْرَةُ خَمْسٌ، اَلْخِتَانُ وَ اْلاِسْتِحْدَادُ وَ نَتْفُ اْلاِبْطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ وَ تَقْلِيْمُ اْلاَظْفَارِ. البخارى 7: 143
Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, :Fithrah itu ada lima : 1. Khitan, 2. Mencukur rambut kemaluan, 3. Mencabut bulu ketiak, 4. Memotong kumis, dan 5. Memotong kuku”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 143]
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اِذَا جَاوَزَ اْلخِتَانُ اْلخِتَانَ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ، فَعَلْتُهُ اَنَا وَ رَسُوْلُ اللهِ ص فَاغْتَسَلْنَا. الترمذى 1: 72، رقم: 108
Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Apabila khitan bertemu khitan, maka sungguh telah wajib mandi. Aku telah melakukannya dengan Rasulullah SAW, maka kami mandi”. [HR. Tirmidzi juz 1, hal. 72, no. 108]
Keterangan :
Dari hadits ini mereka memahami bahwa wanita juga harus berkhitan, karena disebutkan “apabila khitan bertemu khitan”. Dan hadits “khomsun minal fihtrah” itu difahami sebagai dalil umum, bagi laki-laki maupun wanita. Dan juga berdasar hadits-hadits sebagai berikut :
عَنْ اَبِي اْلمَلِيْحِ بْنِ اُسَامَةَ عَنْ اَبِيْهِ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اْلخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرّجَالِ مَكْرُمَةٌ لِلنّسَاءِ. احمد: 7: 381، رقم: 20744
Dari Abul Malih bin usamah dari ayahnya, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Khitan itu sunnah bagi kaum laki-laki dan kemuliaan bagi kaum wanita”. [HR. Ahmad juz 7, hal. 381, no. 20744]
Keterangan :
Hadits ini dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Al-Hajjaj bin Arthah, ia seorang mudallis.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْخِتَانُ سُنَّةٌ لِلرّجَالِ وَ مَكْرُمَةٌ لِلنّسَاءِ. الطبرانى فى الكبير 11: 186، رقم: 11590
Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Khitan itu sunnah bagi kaum laki-laki dan kemuliaan bagi kaum wanita”. [HR. Thabrani, dalam Al-Kabir, juz 11, hal. 186, no. 1159]
Keterangan :
Hadits riwayat Thabrani ini juga diriwayatkan oleh Baihaqi di dalam Sunanul Kubra juz 8, hal. 824, dan ia berkata, “Haadzaa isnaadun dla’iifun (ini sanad yang lemah), yang benar hadits tersebut adalah mauquf.
عَنْ اُمِ عَطِيَّةَ اْلاَنْصَارِيَّةِ اَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَخْتِنُ بِاْلمَدِيْنَةِ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ ص: لاَ تُنْهِكِيْ فَاِنَّ ذلِكِ اَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَ اَحَبُّ اِلَى الْبَعْلِ. ابو داود 4: 368، رقم: 5271
Dari Ummu ‘Athiyah Al-Anshariyah, bahwasanya ada seorang wanita yang biasa mengkhitan di Madinah, maka Nabi SAW bersabda kepadanya, “Jangan kamu habiskan, karena yang demikian itu lebih menyenangkan bagi wanita dan lebih disukai oleh suami”. [HR.Abu Dawud juz 4, hal. 368, no. 5271]
Keterangan :
Hadits ini dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Muhammad bin Hassan, ia majhul.
عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: كَانَتْ بِاْلمَدِيْنَةِ امْرَأَةٌ تَخْفِضُ النّسَاءَ يُقَالُ لَهَا اُمُّ عَطِيَّةَ. فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ ص: اخْفِضِى وَلاَ تُنْهِكِى فَإِنَّهُ اَنْضَرُ لِلْوَجْهِ وَ اَحْظَى عِنْدَ الزَّوْجِ. الحاكم 3: 603، رقم: 6236
Dari Dlahhak bin Qais, ia berkata : Dahulu di Madinah ada seorang wanita yang biasa mengkhitan anak-anak perempuan, ia bernama Ummu ‘Athiyah. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Khitanlah, dan jangan kamu habiskan, karena yang demikian itu lebih mencerahkan wajah, dan lebih menyenangkan suami”.  [HR. Hakim juz 3, hal. 603, no. 6236]
Keterangan :
Hadits ini dalam sanadnya ada seorang rawi bernama ‘Abdul Maalik bin ‘Umair yang masih diperselisihkan,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَفَعَهُ: يَا نِسَاءَ اْلاَنْصَارِ، اِخْتَضِبْنَ غَمْسًا وَ احْفِضْنَ وَ لاَ تُنْهِكْنَ فَاِنَّهُ اَحْظَى عِنْدَ اَزْوَاجِكُنَّ وَ اِيَّاكُنَّ وَ كُفْرَانَ النّعَمِ.
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia mengatakannya dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Hai para wanita Anshar, pakailah pewarna kuku yang merata dan berkhitanlah, dan janganlah kalian habiskan, karena yang demikian itu lebih menyenangkan suami-suami kalian, dan hati-hatilah kalian dari mengkufuri ni’mat”. [HR. Al-Bazzaar dari Ibnu ‘Adiy, dalam Takhiishul Habiir juz 4, hal. 225]
Keterangan :
Hadits ini dla’if, karena dalam sanadnya Al-Bazzar ada perawi bernama Mandil bin ‘Aliy, ia dla’if. Dan dalam sanadnya Ibnu ‘Adiy ada perawi bernama Khalid bin ‘Amr al-Qurasyiy, ia lebih dla’if dari pada Mandil. [Talkhiisul Habiir juz 4, hal. 225]
Sebagian ‘ulama memahami bahwa khitan itu khusus untuk laki-laki, sedangkan untuk wanita tidak ada hadits yang shahih dan sharih (secara tegas) yang menyuruh wanita untuk berkhitan.
Adapun hadits tentang “apabila khitan bertemu khitan maka wajib mandi”, itu tidak mesti menunjukkan bahwa wanita itu berkhitan. Tetapi maksud hadits itu “apabila kemaluan laki-laki bertemu kemaluan wanita (bersetubuh), maka wajib mandi”. Walloohu a’lam.
7. Tentang walimah Khitan
Kami tidak menemukan hadits Nabi SAW yang shahih yang membahas tentang walimah khitan. Hanya, ada riwayat yang dla’if sebagai berikut :
عَنِ اْلحَسَنِ قَالَ: دُعِيَ عُثْمَانُ بْنُ اَبِى اْلعَاصِ اِلَى خِتَانٍ فَاَبَى اَنْ يُجِيْبَ فَقِيْلَ لَهُ، فَقَالَ: اِنَّا كُنَّا لاَ نَأْتِى اْلخِتَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ لاَ نُدْعَى لَهُ. احمد 6: 270، رقم: 17928
Dari Al-Hasan, ia berkata : ‘Utsman bin Abul ‘Ash pernah diundang untuk mendatangi acara khitan, lalu ia menolak menghadirinya. Kemudian dia ditanya, maka ia menjawab, “Sesungguhnya kami di masa Rasulullah SAW tidak pernah mendatangi acara khitan dan tidak pernah ada undangan untuk itu”. [HR. Ahmad juz 6, hal. 270, no. 17928]
Keterangan :
Riwayat ini dla’if, karena dalam sanadnya ada perawi bernama Ibnu Ishaaq, yaitu Muhammad, ia mudallis.
Walloohu ‘alam.

Popular Posts

 

© 2013 Hany My Blog. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top