Rabu, 18 Juni 2014

Halal Haram dalam Islam (ke-5)

07.25

Halal Haram dalam Islam (ke-5)
11. Keadaan dlarurat dan pengecualiannya.
Firman Allah :
وَ قَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ اِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ اِلَيْهِ. الانعام:119
Dan Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. [QS. Al-An'aam : 119]
Dan di ayat lain, setelah Allah menyebut tentang haramnya bangkai, darah dan sebagainya, kemudian diikutinya dengan firman-Nya :
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّ لاَ عَادٍ فَلآَ اِثْمَ عَلَيْهِ، اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. البقرة: 173
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.. [QS. Al-Baqarah : 173]
Dlarurat yang sudah disepakati oleh semua ulama ialah dlarurat dalam masalah makanan, karena kelaparan. Jadi orang yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak mendapatkan makanan kecuali makanan yang diharamkan itu, maka diwaktu itu dia boleh memakannya sekedar untuk menjaga diri dari bahaya kebinasaan.
Perkataan Ghaira baaghin maksudnya : Tidak mencari-cari alasan untuk memenuhi keinginannya. Sedang yang dimaksud dengan walaa 'aadin, yaitu seperti yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya dengan tegas :
فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ ِلاِثْمٍ فَاِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. المائدة:3
Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Maidah : 3]
12. Tidak dianggap dlarurat orang yang berada dalam masyarakat yang di situ ada sesuatu yang dapat mengatasi keterpaksaannya.
Tidak termasuk dlarurat yang membolehkan seseorang makan makanan yang haram, apabila di masyarakat itu ada kaum muslimin yang mempunyai makanan yang dapat untuk mengatasi keterpaksaannya itu. Karena prinsip masyarakat Islam harus ada saling tolong-menolong dan perasaan saling bertanggung-jawab dan bersatu padu bagaikan satu tubuh atau satu bangunan, yang satu dengan yang lain saling kuat-menguatkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
عَنْ اَبِى مُوْسَى قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَاْلبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مسلم 4: 1999
Dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin satu dengan yang lainnya adalah seperti satu bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain". [HR. Muslim juz 4, hal. 1999]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا امَنَ بِى مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَائِعٌ اِلَى جَنْبِهِ وَ هُوَ يَعْلَمُ. الطبرانى فى الكبير 1: 259، رقم: 751
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : "Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan kenyang sedang tetangganya lapar, padahal ia mengetahui". [HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 1, hal. 259, no. 751]

13. Tentang makanan yang haram bagi ummat Islam

Firman Allah SWT :
قُلْ لآَّ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلى طَاعِمٍ يَطْعَمُه اِلاَّ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مُّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّه رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهِ، فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّ لاَ عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. الانعام:145
Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-An’aam : 145]
اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ اْلمَيْتَةَ وَ الدَّمَ وَ لَحْمَ اْلخِنْزِيْرِ وَ مَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِه، فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّ لاَ عَادٍ فَاِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. النحل: 115
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nahl : 115]
اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ اْلمَيْتَةَ وَ الدَّمَ وَ لَحْمَ اْلخِنْزِيْرِ وَ مَآ اُهِلَّ بِه لِغَيْرِ اللهِ، فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّ لاَ عَادٍ فَلآَ اِثْمَ عَلَيْهِ، اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. البقرة: 173
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah : 173]
حُرّمَتْ عَلَيْكُمُ اْلمَيْتَةُ وَ الدَّمُ وَ لَحْمُ اْلخِنْزِيْرِ وَ مَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِه وَ اْلمُنْخَنِقَةُ وَ اْلمَوْقُوْذَةُ وَ اْلمُتَرَدّيَةُ وَ النَّطِيْحَةُ وَ مَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ، وَ مَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَ اَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِاْلاَزْلاَمِ، ذلِكُمْ فِسْقٌ، اْليَوْمَ يَئِسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَ اخْشَوْنِ، اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ اَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَ رَضِيْتُ لَكُمُ اْلاِسْلامَ دِيْنًا، فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لاِثْمٍ فَاِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. المائدة: 3
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Maaidah : 3]
Keempat ayat di atas, 2 diturunkan sebelum hijrah Nabi SAW, jadi termasuk ayat-ayat Makkiyah, yaitu ayat 145 surat Al-An’aam dan ayat 115 surat An-Nahl. Sedangkan 2 ayat yang lain, yaitu 173 surat Al-Baqarah dan ayat 3 surat Al-Maaidah termasuk ayat-ayat Madaniyah, kesemuanya menjelaskan bahwa makanan yang diharamkan Allah bagi ummat Islam hanyalah :
1. bangkai,
2. darah,
3. daging babi, dan
4. Sembelihan yang disembelih dengan disebut (nama) selain Allah.
Inilah empat macam makanan yang diharamkan oleh Allah berdasar keempat firman-Nya di atas.
Adapun antara ayat 3 Al-Maaidah yang menetapkan 10 macam binatang yang haram, dengan ayat 145 Al-An’aam, ayat 115 An-Nahl dan ayat 173 Al-Baqarah yang menetapkan 4 macam itu, sama sekali tidak bertentangan. Karena ayat 3 surat Al-Maaidah tersebut merupakan perincian dari tiga ayat yang lain yang telah disebutkan di atas.
Binatang yang dicekik, dipukul, jatuh dari atas, ditanduk dan karena dimakan binatag buas, semuanya adalah termasuk dalam pengertian bagkai. Jadi semua itu sekedar perincian dari kata bangkai. Begitu juga binatang yag disembelih untuk berhala, adalah semakna dengan yang disembelih dengan disebut (nama) selain Allah, Jadi kedua-duanya mempunyai pengertian yang sama.
Ringkasnya, secara global (ijmaliy) makanan yang diharamkan itu ada empat macam, dan kalau diperinci bisa menjadi sepuluh, sebagaimana pada surat Al-Maaidah ayat 3 tersebut.
14. Ikan dan belalang dapat dikecualikan dari bangkai.
Ada dua binatang yang dikecualikan oleh syari’at Islam dari kategori bangkai, yaitu belalang dan ikan (dan sebangsanya), berdasarkan riwayat sebagai berikut :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى اَوْفَى قَالَ: غَزَوْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ ص سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ اْلجَرَادَ. مسلم 3: 1546
Dari 'Abdullah bin Abi 'Aufaa, ia berkata, "Kami pernah tujuh kali ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan kami makan belalang". [HR. Muslim juz 3, hal. 1546]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اُحِلَّ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَ دَمَانِ، فَاَمَّا اْلمَيْتَتَانِ فَاْلحُوْتُ وَ اْلجَرَادُ وَ اَمَّا الدَّمَانِ فَاْلكَبِدُ وَ الطّحَالُ. ابن ماجه 2: 1101، رقم: 3314
.Dari 'Abdullah bin 'Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, "Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedangkan dua darah yaitu hati dan limpa". [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1101, no. 3314, dla'if karena dalam sanadnya ada perawi bernama 'Abdur Rahman bin Zaid]
Dan firman Allah SWT :
اُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ اْلبَحْرِ وَ طَعَامُه … المائدة: 96
Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanannya. [QS. Al-Maaidah : 96]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ رَسُوْلَ اللهِ ص فَقَالَ: اِنَّا نَرْكَبُ اْلبَحْرَ وَ مَعَنَا اْلقَلِيْلُ مِنَ اْلمَاءِ فَاِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا اَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ اْلبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ اْلحِلُّ مَيْتَتُهُ. الدارمى 1: 186، رقم: 711
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ia berkata, "Sesungguhnya kami biasa berlayar dan kami membawa bekal air tawar hanya sedikit. Jika kami berwudlu dengan air tersebut maka kami bisa kehausan. Maka bolehkah kami berwudlu dengan air laut ?". Rasulullah SAW menjawab, "Laut itu suci airnya dan halal bangkainya". [HR. Darimiy juz 1, hal. 186, no. 711]
Rasulullah SAW pernah mengirim satu pasukan, kemudian mereka itu menemukan seekor ikan besar yang sudah mati. Ikan itu kemudian dimakan selama setengah bulan. Setelah mereka tiba di Madinah, diceritakanlah hal tersebut kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda : “Makanlah sebagai rezqi yang telah Allah keluarkan untuk kalian”, sebagaimana riwayat berikut :
عَنْ جَابِرٍ رض قَالَ: غَزَوْنَا جَيْشَ اْلخَبَطِ وَ اُمّرَ اَبُو عُبَيْدَةَ، فَجُعْنَا جُوْعًا شَدِيْدًا، فَاَلْقَى اْلبَحْرُ حُوْتًا مَيّتًا لَمْ نَرَ مِثْلَهُ يُقَالُ لَهُ اْلعَنْبَرُ فَاَكَلْنَا مِنْهُ نِصْفَ شَهْرٍ فَاَخَذَ اَبُو عُبَيْدَةَ عَظْمًا مِنْ عِظَامِهِ فَمَرَّ الرَّاكِبُ تَحْتَهُ، فَاَخْبَرَنِى اَبُو الزُّبَيْرِ اَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا يَقُوْلُ. قَالَ اَبُو عُبَيْدَةَ: كُلُوا. فَلَمَّا قَدِمْنَا اْلمَدِيْنَةَ ذَكَرْنَا ذلِكَ لِلنَّبِيّ ص فَقَالَ: كُلُوْا رِزْقًا اَخْرَجَهُ اللهُ اَطْعِمُوْنَا اِنْ كَانَ مَعَكُمْ فَاتَاهُ بَعْضُهُمْ فَاَكَلَه. البخارى 5: 114
Dari Jabir RA, ia berkata : Kami pernah berperang yakni pada Pasukan Khabath (pasukan ini dinamakan pasukan Khabath, karena kelaparan sehingga memakan daun-daun khabath/daun salam), sedang Abu 'Ubaidah diangkat sebagai pemimpinnya. Lalu kami tertimpa kelaparan yang sangat. Kemudian air laut mendamparkan ikan yang sangat besar yang telah mati yang kami belum pernah melihat ikan seperti itu, yaitu ikan 'Anbar (paus), lalu kami memakannya selama setengah bulan. Kemudian Abu 'Ubaidah mengambil (dua) tulang rusuknya (lalu ditegakkan) dan menyuruh seseorang mengendarai untanya lewat di bawahnya (dan ternyata tidak sundul). Abu Zubair mengkhabarkan kepadaku bahwa ia mendengar Jabir berkata : Abu 'Ubaidah berkata, “Makanlah kalian !”. (Maka kami memakannya). Setelah kami tiba di Madinah, kami menceritakan hal itu kepada Nabi SAW, lalu beliau bersabda, “Makanlah rezqi yang dikeluarkan oleh Allah, dan berilah kami jika masih ada”. Maka sebagian dari mereka memberikan kepada beliau, lalu beliau pun memakannya”. [HR. Bukhari juz 5, hal. 114]

Written by

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. Al Hadid 57 : 16)

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Hany My Blog. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top