Halal Haram dalam Islam (ke-5)
11. Keadaan dlarurat dan
pengecualiannya.
Firman Allah :
وَ
قَدْ فَصَّلَ
لَكُمْ مَّا
حَرَّمَ
عَلَيْكُمْ
اِلاَّ مَا
اضْطُرِرْتُمْ
اِلَيْهِ.
الانعام:119
Dan Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang
diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.
[QS. Al-An'aam : 119]
Dan di ayat lain, setelah Allah menyebut tentang
haramnya bangkai, darah dan sebagainya, kemudian diikutinya dengan firman-Nya :
فَمَنِ
اضْطُرَّ
غَيْرَ بَاغٍ
وَّ لاَ عَادٍ
فَلآَ اِثْمَ
عَلَيْهِ،
اِنَّ اللهَ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ.
البقرة: 173
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
(memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas,
maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang..
[QS. Al-Baqarah : 173]
Dlarurat yang sudah disepakati oleh semua ulama ialah
dlarurat dalam masalah makanan, karena kelaparan. Jadi orang yang dalam keadaan
terpaksa sedang dia tidak mendapatkan makanan kecuali makanan yang diharamkan
itu, maka diwaktu itu dia boleh memakannya sekedar untuk menjaga diri dari
bahaya kebinasaan.
Perkataan Ghaira baaghin maksudnya : Tidak
mencari-cari alasan untuk memenuhi keinginannya. Sedang yang dimaksud
dengan walaa 'aadin, yaitu seperti yang dijelaskan Allah dalam
firman-Nya dengan tegas :
فَمَنِ
اضْطُرَّ
فِيْ
مَخْمَصَةٍ
غَيْرَ مُتَجَانِفٍ
ِلاِثْمٍ
فَاِنَّ
اللهَ غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ.
المائدة:3
Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Al-Maidah : 3]
12.
Tidak dianggap dlarurat orang yang berada dalam masyarakat yang di situ ada
sesuatu yang dapat mengatasi keterpaksaannya.
Tidak termasuk dlarurat yang membolehkan seseorang
makan makanan yang haram, apabila di masyarakat itu ada kaum muslimin yang
mempunyai makanan yang dapat untuk mengatasi keterpaksaannya itu. Karena
prinsip masyarakat Islam harus ada saling tolong-menolong dan perasaan saling bertanggung-jawab
dan bersatu padu bagaikan satu tubuh atau satu bangunan, yang satu dengan yang
lain saling kuat-menguatkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
عَنْ
اَبِى
مُوْسَى
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ
ص:
اَلْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ
كَاْلبُنْيَانِ
يَشُدُّ
بَعْضُهُ
بَعْضًا.
مسلم 4: 1999
Dari Abu Musa, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, "Orang mukmin satu dengan yang lainnya adalah
seperti satu bangunan, yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain".
[HR. Muslim juz 4, hal. 1999]
عَنْ
اَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ رض
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص: مَا
امَنَ بِى
مَنْ بَاتَ
شَبْعَانًا
وَ جَارُهُ جَائِعٌ
اِلَى
جَنْبِهِ وَ
هُوَ
يَعْلَمُ.
الطبرانى فى
الكبير 1: 259، رقم:
751
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata : "Rasulullah
SAW bersabda, "Tidaklah beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan
kenyang sedang tetangganya lapar, padahal ia mengetahui".
[HR. Thabrani dalam Al-Kabir juz 1, hal. 259, no. 751]
13. Tentang makanan yang haram bagi ummat Islam
Firman Allah SWT :
قُلْ
لآَّ اَجِدُ
فِيْ مَآ
اُوْحِيَ
اِلَيَّ مُحَرَّمًا
عَلى طَاعِمٍ
يَطْعَمُه
اِلاَّ اَنْ
يَّكُوْنَ
مَيْتَةً
اَوْ دَمًا
مُّسْفُوْحًا
اَوْ لَحْمَ
خِنْزِيْرٍ
فَاِنَّه رِجْسٌ
اَوْ فِسْقًا
اُهِلَّ
لِغَيْرِ
اللهِ بِهِ،
فَمَنِ
اضْطُرَّ
غَيْرَ بَاغٍ
وَّ لاَ عَادٍ
فَاِنَّ
رَبَّكَ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ.
الانعام:145
Katakanlah, “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali
kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena semua
itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa
yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS.
Al-An’aam : 145]
اِنَّمَا
حَرَّمَ
عَلَيْكُمُ
اْلمَيْتَةَ
وَ الدَّمَ وَ
لَحْمَ
اْلخِنْزِيْرِ
وَ مَآ
اُهِلَّ
لِغَيْرِ
اللهِ بِه،
فَمَنِ اضْطُرَّ
غَيْرَ بَاغٍ
وَّ لاَ عَادٍ
فَاِنَّ اللهَ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ.
النحل: 115
Sesungguhnya
Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa
yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa yang
terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak melampaui batas, maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nahl :
115]
اِنَّمَا
حَرَّمَ
عَلَيْكُمُ
اْلمَيْتَةَ
وَ الدَّمَ وَ
لَحْمَ
اْلخِنْزِيْرِ
وَ مَآ
اُهِلَّ بِه
لِغَيْرِ
اللهِ،
فَمَنِ اضْطُرَّ
غَيْرَ بَاغٍ
وَّ لاَ عَادٍ
فَلآَ اِثْمَ
عَلَيْهِ،
اِنَّ اللهَ
غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ.
البقرة: 173
Sesungguhnya
Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang
(ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam
keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah : 173]
حُرّمَتْ
عَلَيْكُمُ
اْلمَيْتَةُ
وَ الدَّمُ وَ
لَحْمُ
اْلخِنْزِيْرِ
وَ مَآ اُهِلَّ
لِغَيْرِ
اللهِ بِه وَ
اْلمُنْخَنِقَةُ
وَ
اْلمَوْقُوْذَةُ
وَ
اْلمُتَرَدّيَةُ
وَ النَّطِيْحَةُ
وَ مَآ اَكَلَ
السَّبُعُ
اِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ،
وَ مَا ذُبِحَ
عَلَى
النُّصُبِ وَ
اَنْ
تَسْتَقْسِمُوْا
بِاْلاَزْلاَمِ،
ذلِكُمْ
فِسْقٌ،
اْليَوْمَ
يَئِسَ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا
مِنْ
دِيْنِكُمْ
فَلاَ تَخْشَوْهُمْ
وَ
اخْشَوْنِ،
اَلْيَوْمَ
اَكْمَلْتُ
لَكُمْ دِيْنَكُمْ
وَ
اَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِيْ
وَ رَضِيْتُ
لَكُمُ
اْلاِسْلامَ
دِيْنًا،
فَمَنِ
اضْطُرَّ
فِيْ
مَخْمَصَةٍ غَيْرَ
مُتَجَانِفٍ
لاِثْمٍ
فَاِنَّ
اللهَ غَفُوْرٌ
رَّحِيْمٌ.
المائدة: 3
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan)
yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang
jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu
menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan
(diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak
panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa
untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan
takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Kucukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama
bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. Al-Maaidah
: 3]
Keempat ayat di atas, 2 diturunkan sebelum hijrah Nabi SAW, jadi
termasuk ayat-ayat Makkiyah, yaitu ayat 145 surat Al-An’aam dan ayat 115
surat An-Nahl. Sedangkan 2 ayat yang lain, yaitu 173 surat Al-Baqarah dan ayat
3 surat Al-Maaidah termasuk ayat-ayat Madaniyah, kesemuanya menjelaskan bahwa
makanan yang diharamkan Allah bagi ummat Islam hanyalah :
1.
bangkai,
2. darah,
3. daging babi, dan
4. Sembelihan yang
disembelih dengan disebut (nama) selain Allah.
Inilah empat macam makanan yang diharamkan
oleh Allah berdasar keempat firman-Nya di atas.
Adapun antara ayat 3 Al-Maaidah yang menetapkan 10 macam binatang yang
haram, dengan ayat 145 Al-An’aam, ayat 115 An-Nahl dan ayat 173
Al-Baqarah yang menetapkan 4 macam itu, sama sekali tidak bertentangan. Karena
ayat 3 surat Al-Maaidah tersebut merupakan perincian dari tiga ayat yang lain
yang telah disebutkan di atas.
Binatang yang dicekik, dipukul, jatuh dari atas, ditanduk dan karena
dimakan binatag buas, semuanya adalah termasuk dalam pengertian bagkai. Jadi
semua itu sekedar perincian dari kata bangkai. Begitu juga binatang yag
disembelih untuk berhala, adalah semakna dengan yang disembelih dengan disebut
(nama) selain Allah, Jadi kedua-duanya mempunyai pengertian yang sama.
Ringkasnya, secara global (ijmaliy) makanan yang diharamkan itu ada
empat macam, dan kalau diperinci bisa menjadi sepuluh, sebagaimana pada surat
Al-Maaidah ayat 3 tersebut.
14. Ikan dan belalang dapat dikecualikan dari bangkai.
Ada dua binatang yang dikecualikan oleh syari’at Islam dari
kategori bangkai, yaitu belalang dan ikan (dan sebangsanya), berdasarkan
riwayat sebagai berikut :
عَنْ
عَبْدِ اللهِ
بْنِ اَبِى
اَوْفَى قَالَ:
غَزَوْنَا
مَعَ
رَسُوْلِ
اللهِ ص
سَبْعَ غَزَوَاتٍ
نَأْكُلُ
اْلجَرَادَ.
مسلم 3: 1546
Dari 'Abdullah bin Abi 'Aufaa, ia berkata, "Kami pernah tujuh kali
ikut berperang bersama Rasulullah SAW dan kami makan belalang". [HR. Muslim juz
3, hal. 1546]
عَنْ
عَبْدِ اللهِ
بْنِ عُمَرَ
اَنَّ رَسُوْلَ
اللهِ ص
قَالَ:
اُحِلَّ
لَكُمْ
مَيْتَتَانِ
وَ دَمَانِ،
فَاَمَّا
اْلمَيْتَتَانِ
فَاْلحُوْتُ
وَ
اْلجَرَادُ
وَ اَمَّا
الدَّمَانِ فَاْلكَبِدُ
وَ الطّحَالُ.
ابن ماجه 2: 1101،
رقم: 3314
.Dari 'Abdullah bin 'Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
"Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai
yaitu ikan dan belalang, sedangkan dua darah yaitu hati dan limpa".
[HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1101, no. 3314, dla'if karena dalam sanadnya ada
perawi bernama 'Abdur Rahman bin Zaid]
Dan firman Allah SWT :
اُحِلَّ
لَكُمْ
صَيْدُ
اْلبَحْرِ وَ
طَعَامُه …
المائدة: 96
Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanannya. [QS. Al-Maaidah
: 96]
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ
قَالَ: سَأَلَ
رَجُلٌ
رَسُوْلَ
اللهِ ص
فَقَالَ:
اِنَّا
نَرْكَبُ
اْلبَحْرَ وَ
مَعَنَا
اْلقَلِيْلُ
مِنَ اْلمَاءِ
فَاِنْ
تَوَضَّأْنَا
بِهِ عَطِشْنَا
اَفَنَتَوَضَّأُ
مِنْ مَاءِ
اْلبَحْرِ؟
فَقَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص: هُوَ
الطَّهُوْرُ
مَاؤُهُ
اْلحِلُّ
مَيْتَتُهُ.
الدارمى 1: 186،
رقم: 711
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ada seorang laki-laki bertanya kepada
Rasulullah SAW, ia berkata, "Sesungguhnya kami biasa berlayar dan kami
membawa bekal air tawar hanya sedikit. Jika kami berwudlu dengan air tersebut
maka kami bisa kehausan. Maka bolehkah kami berwudlu dengan air laut ?".
Rasulullah SAW menjawab, "Laut itu suci airnya dan halal bangkainya". [HR. Darimiy juz
1, hal. 186, no. 711]
Rasulullah SAW pernah mengirim satu pasukan, kemudian mereka itu
menemukan seekor ikan besar yang sudah mati. Ikan itu kemudian dimakan selama
setengah bulan. Setelah mereka tiba di Madinah, diceritakanlah hal tersebut
kepada Nabi SAW, maka beliau bersabda : “Makanlah sebagai rezqi yang
telah Allah keluarkan untuk kalian”, sebagaimana riwayat berikut :
عَنْ
جَابِرٍ رض
قَالَ:
غَزَوْنَا
جَيْشَ اْلخَبَطِ
وَ اُمّرَ
اَبُو
عُبَيْدَةَ،
فَجُعْنَا
جُوْعًا
شَدِيْدًا،
فَاَلْقَى
اْلبَحْرُ
حُوْتًا
مَيّتًا لَمْ
نَرَ
مِثْلَهُ
يُقَالُ لَهُ
اْلعَنْبَرُ
فَاَكَلْنَا
مِنْهُ نِصْفَ
شَهْرٍ
فَاَخَذَ
اَبُو
عُبَيْدَةَ عَظْمًا
مِنْ
عِظَامِهِ
فَمَرَّ
الرَّاكِبُ
تَحْتَهُ،
فَاَخْبَرَنِى
اَبُو الزُّبَيْرِ
اَنَّهُ
سَمِعَ
جَابِرًا
يَقُوْلُ. قَالَ
اَبُو عُبَيْدَةَ:
كُلُوا.
فَلَمَّا
قَدِمْنَا
اْلمَدِيْنَةَ
ذَكَرْنَا
ذلِكَ
لِلنَّبِيّ ص
فَقَالَ:
كُلُوْا
رِزْقًا
اَخْرَجَهُ
اللهُ اَطْعِمُوْنَا
اِنْ كَانَ
مَعَكُمْ
فَاتَاهُ بَعْضُهُمْ
فَاَكَلَه.
البخارى 5: 114
Dari Jabir RA, ia berkata : Kami pernah
berperang yakni pada Pasukan Khabath (pasukan ini dinamakan pasukan Khabath,
karena kelaparan sehingga memakan daun-daun khabath/daun salam), sedang Abu
'Ubaidah diangkat sebagai pemimpinnya. Lalu kami tertimpa kelaparan yang
sangat. Kemudian air laut mendamparkan ikan yang sangat besar yang telah mati
yang kami belum pernah melihat ikan seperti itu, yaitu ikan 'Anbar (paus), lalu
kami memakannya selama setengah bulan. Kemudian Abu 'Ubaidah mengambil (dua)
tulang rusuknya (lalu ditegakkan) dan menyuruh seseorang mengendarai untanya
lewat di bawahnya (dan ternyata tidak sundul). Abu Zubair mengkhabarkan
kepadaku bahwa ia mendengar Jabir berkata : Abu 'Ubaidah berkata,
“Makanlah kalian !”. (Maka kami memakannya). Setelah kami tiba di
Madinah, kami menceritakan hal itu kepada Nabi SAW, lalu beliau bersabda,
“Makanlah rezqi yang dikeluarkan oleh Allah, dan berilah kami jika masih
ada”. Maka sebagian dari mereka memberikan kepada beliau, lalu beliau pun
memakannya”. [HR. Bukhari juz 5, hal. 114]



0 komentar:
Posting Komentar