Halal Haram dalam Islam (ke-3)
5. Apa Saja yang Membawa Kepada yang Haram adalah Haram
Salah satu prinsip yang telah diakui oleh Islam, ialah :
Apabila Islam telah mengharamkan sesuatu, maka wasilah dan cara apapun yang
dapat membawa kepada perbuatan haram, hukumnya adalah haram.
Oleh karena itu, jika Islam mengharamkan zina misalnya,
maka semua pendahuluannya dan apasaja yang dapat membawa kepada perbuatan itu,
adalah diharamkan juga. Misalnya, dengan berdua-duaan, pergaulan bebas,
foto-foto telanjang dan lain sebagainya.
Dari sinilah, maka para ulama ahli fiqih membuat suatu
kaidah : Apasaja yang membawa kepada perbuatan haram, maka itu adalah haram.
Kaidah ini menunjukkan bahwa dosa perbuatan haram tidak
hanya terbatas pada pribadi si pelakunya itu saja, tetapi termasuk semua orang
yang bersekutu/membantu dengan dia, baik melalui harta ataupun lainnya.
Masing-masing mendapat dosa sesuai dengan keterlibatannya. Misalnya tentang
khamr, Rasulullah SAW melaknat kepada yang meminumnya, yang membuatnya, yang
membawanya, yang diberinya, yang menjualnya dan seterusnya.
Di dalam hadits disebutkan :
عَنْ
اَنَسٍ بْنِ
مَالِكٍ
قَالَ: لَعَنَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص فِى
اْلخَمْرِ
عَشَرَةً:
عَاصِرَهَا
وَ مُعْتَصِرَهَا
وَ
شَارِبَهَا
وَ
حَامِلَهَا وَ
اْلمَحْمُوْلَةَ
اِلَيْهِ وَ
سَاقِيَهَا
وَ
بَائِعَهَا
وَ آكِلَ
ثَمَنِهَا وَ
اْلمُشْتَرِيَ
لَهَا وَ
اْلمُشْتَرَاةَ
لَهُ. الترمذى
2: 380، رقم: 1313
Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Rasulullah SAW
mela’nat tentang khamr sepuluh golongan
: 1. yang memerasnya, 2. Yang minta diperaskannya, 3. yang meminumnya, 4. yang
mengantarkannya, 5. yang minta diantarinya, 6. yang menuangkannya, 7. yang
menjualnya, 8. yang makan harganya, 9. yang membelinya, dan 10. yang minta
dibelikannya". [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 380, no. 1313]
Begitu pula dalam soal riba, dilaknat orang yang
memakannya, yang memberikannya, penulisnya dan saksi-saksinya.
عَنْ
جَابِرٍ
قَالَ: لَعَنَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص آكِلَ
الرّبَا وَ
مُوْكِلَهُ
وَ كَاتِبَهُ
وَ شَاهِدَيْهِ،
وَ قَالَ:
هُمْ سَوَآءٌ.
مسلم 3: 1219
Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW melaknat orang
yang makan riba, yang memberi makannya, penulisnya dan dua saksinya, dan beliau
bersabda : "Mereka itu sama". [HR. Muslim juz 3, hal.
1219]
Begitu pula tentang suap-menyuap sebagaimana riwayat
berikut :
عَنْ
عَبْدِ اللهِ
بْنِ عَمْرٍو
قَالَ: لَعَنَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص
الرَّاشِيَ
وَ اْلمُرْتَشِيَ.
هذا حديث حسن
صحيح،
الترمذى 2: 397،
رقم: 1352
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata,
“Rasulullah SAW mela’nat orang yang menyuap dan orang diberi
suap”. [HR. Tirmidzi, dan ia berkata : Ini hadits hasan
shahih, juz 2, hal. 397, no. 1352]
عَنْ
عَبْدِ اللهِ
بْنِ عَمْرٍو
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
الرَّاشِي وَ
اْلمُرْتَشِى
فِى النَّارِ.
مجمع الزوائد
4: 257، ررقم: 7027
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata :
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang menyuap dan yang disuap sama-sama di
neraka”. [HR. Thabraniy dalam Majma’uz Zawaaid juz 4,
hal. 257, no. 7027]
Begitulah, maka semua yang dapat membantu kepada
perbuatan haram, hukumnya adalah haram juga. Dan semua orang yang membantu
kepada orang yang berbuat haram, maka dia akan terlibat dalam dosanya juga.
6. Bersiasat terhadap yang Haram hukumnya adalah Haram.
Sebagaimana Islam telah mengharamkan seluruh perbuatan
yang dapat membawa kepada haram, begitu pula Islam mengharamkan semua siasat
untuk berbuat haram.
Salah satu contoh, misalnya, orang-orang Yahudi
dilarang mencari ikan di hari Sabtu, kemudian mereka bersiasat untuk melanggar
larangan ini dengan memasang perangkap pada hari Jum'at supaya hari Sabtunya
ikan-ikan bisa masuk dalam perangkap tersebut, dan akan diambilnya nanti pada
hari Ahad.
Cara seperti ini dipandang halal oleh orang-orang yang
memang bersiasat untuk melanggar larangan itu, tetapi sebetulnya adalah suatu
perbuatan haram, karena motifnya sama-sama mencari ikan di hari Sabtu, baik
dengan jalan bersiasat maupun secara langsung.
Termasuk siasat (hilah), yaitu menamakan sesuatu yang
haram dengan nama lain, dan merubah bentuk, padahal intinya (bahannya) itu
juga.
Oleh karena itu siapapun yang membuat nama baru dengan
niat bersiasat supaya dapat makan riba, atau dengan niat supaya dapat minum
khamr, maka dosa riba dan khamr tetap mengenainya.
Untuk itulah maka dalam hadits Nabi SAW disebutkan :
عَنْ
عُبَادَةَ
بْنِ
الصَّامِتِ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص:
لَيَسْتَحِلَّنَّ
طَائِفَةٌ
مِنْ
اُمَّتِى
اْلخَمْرَ
بِاسْمٍ يُسَمُّوْنَهَا
اِيَّاهُ.
احمد 8: 401، رقم: 22772
Dari 'Ubadah bin Shamit, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, "Sungguh akan ada segolongan dari ummatku yang menghalalkan
khamr dengan menamakannya dengan nama lain".
[HR. Ahmad juz 8, hal. 401, no. 22772]
عَنْ
اَبِى
مَالِكٍ
اْلاَشْعَرِيّ
اَنَّهُ
سَمِعَ
رَسُوْلَ
اللهِ ص
يَقُوْلُ:
لَيَشْرَبَنَّ
اُنَاسٌ مِنْ
اُمَّتِى
اْلخَمْرَ يُسَمُّوْنَهَا
بِغَيْرِ
اسْمِهَا.
ابو داود 3: 329،
رقم: 3688
Dari Abu Malik Al-Asy'ariy, bahwa ia mendengar
Rasulullah SAW bersabda, "Sungguh akan ada sekelompok manusia dari ummatku
yang minum khamr, dan mereka menamakannya dengan nama lain".
[HR. Abu Dawud juz 3, hal. 329, no. 3688]
عَنِ
ابْنِ
مُحَيْرِيْزٍ
يُحَدّثُ
عَنْ رَجُلٍ
مِنْ
اَصْحَابِ
النَّبِيّ ص
عَنِ النَّبِيّ
ص قَالَ:
يَشْرَبُ
نَاسٌ مِنْ
اُمَّتِى
اْلخَمْرَ
يُسَمُّوْنَهَا
بِغَيْرِ اسْمِهَا.
النسائى 8: 312
Dari Ibnu Muhairiz, ia menceritakan dari salah seorang
shahabat Nabi SAW, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Akan ada segolongan
manusia dari ummatku yang minum khamr, dan mereka menamakannya dengan nama
lain". [HR. Nasai juz 8, hal. 312]
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ عَنْ
رَسُوْلِ
اللهِ ص
قَالَ:
قَاتَلَ
اللهُ اْليَهُوْدَ
حَرَّمَ
اللهُ
عَلَيْهِمْ
الشُّحُوْمَ
فَبَاعُوْهَا
وَ اَكَلُوْا
اَثْمَانَهَا.
مسلم 3: 1208
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau
bersabda, "Semoga Allah membinasakan orang-orang Yahudi, Allah telah
mengharamkan lemak binatang atas mereka, lalu mereka menjualnya dan memakan
harganya (uang hasil penjualan itu)". [HR. Muslim juz 3, hal.
1208]
7.
Niat Baik Tidak Dapat Melepaskan yang Haram.
Islam memandang baik terhadap setiap hal yang dapat mendorong
untuk berbuat baik, tujuan yang mulia dengan niat yang bagus. Untuk itulah maka
Rasulullah SAW bersabda :
اِنَّمَا
اْلاَعْمَالُ
بِالنّيَاتِ
وَ اِنَّمَا
لِكُلّ
امْرِئٍ مَا
نَوَى.
البخارى 1: 2
Sesungguhnya semua amal itu tergantung dengan niatnya,
dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.
[HR. Bukhari juz 1, hal. 2]
Niat yang baik dapat menggunakan seluruh yang mubah
untuk berbhakti dan taqarrub kepada Allah. Oleh karena itu siapa yang
makan dengan niat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan menguatkan tubuhnya
supaya dapat melaksanakan kewajibannya untuk berkhidmat kepada Allah dan
ummatnya, maka makan dan minumnya itu dapat dinilai sebagai amal qurbah.
Begitu juga, barangsiapa yang melepaskan syahwatnya
kepada istrinya dengan niat untuk mendapatkan anak, atau karena menjaga diri
dari perbuatan makshiyat, maka pelepasan syahwat tersebut dapat dinilai sebagai
sesuatu yang berhak mendapat pahala. Untuk itu pula Rasulullah SAW bersabda :
وَفِى
بُضْعِ
اَحَدِكُمْ
صَدَقَةٌ.
قَالُوْا يَا
رَسُوْلَ
اللهِ
اَيَأْتِى اَحَدُنَا
شَهْوَتَهُ
وَ يَكُوْنُ
لَهُ فِيْهَا
اَجْرٌ؟
قَالَ:
اَرَأَيْتُمْ
لَوْ وَضَعَهَا
فِى حَرَامٍ
اَكَانَ
عَلَيْهِ
فِيْهَا
وِزْرٌ؟
فَكَذلِكَ
اِذَا
وَضَعَهَا
فِى الْحَلاَلِ
كَانَ لَهُ
اَجْرٌ.
مسلم 2: 697
"Dan pada kemaluan seseorang diantara kalian ada
shadaqah". Para shahabat bertanya : "Apakah seseorang dari kami
melepaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala, ya Rasulullah ?". Nabi SAW
menjawab, "Bagaimana pendapat kalian, bukankah apabila dia melepaskan pada
yang haram, dia juga berdosa ?". Maka begitu pula apabila dia
meletakkannya pada yang halal, maka diapun mendapatkan pahala".
[HR. Muslim juz 2, hal. 697]
Adapun masalah haram tetap dinilai haram, betapapun
baik dan mulianya niat dan tujuan itu. Bagaimanapun baiknya rencana, selama
tidak dibenarkan oleh Islam, maka selamanya yang haram itu tidak boleh dipakai
alat untuk mencapai tujuan yang baik. Sebab Islam menginginkan tujuan yang suci
dan caranya pun harus suci juga. Jadi setiap tujuan baik, harus dicapai dengan
cara yang baik pula.
Maka barangsiapa mengumpulkan uang yang diperoleh
dengan jalan riba, mencuri (menjarah/merampok), makshiyat, judi dan sebagainya
yang dapat dikategorikan haram, walaupun dengan maksud untuk mendirikan masjid
atau untuk terlaksananya rencana-rencana yang baik lainnya, maka tujuan baiknya
itu tidak bisa merubah haramnya.
Demikianlah apa yang diajarkan kepada kita oleh Rasulullah
SAW, sebagaimana sabda beliau dalam hadits sebagai berikut :
عَنْ
اَبِى هُرَيْرَةَ
قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ
اللهِ ص: اَيُّهَا
النَّاسُ،
اِنَّ اللهَ
طَيّبٌ لاَ يَقْبَلُ
اِلاَّ
طَيّبًا، وَ
اِنَّ اللهَ اَمَرَ
اْلمُؤْمِنِيْنَ
بِمَا اَمَرَ
بِهِ اْلمُرْسَلِيْنَ،
فَقَالَ: يَا
اَيُّهَا الرُّسُلُ
كُلُوْا مِنَ
الطَّيّبَاتِ
وَ اعْمَلُوْا
صَالِحًا،
اِنّيْ بِمَا
تَعْمَلُوْنَ
عَلِيْمٌ. وَ
قَالَ: يَا
اَيُّهَا
الَّذِيْنَ
امَنُوْا
كُلُوْا مِنْ
طَيّبَاتِ
مَا رَزَقْنَاكُمْ.
ثُمَّ ذَكَرَ
الرَّجُلَ
يُطِيْلُ السَّفَرَ
اَشْعَثَ
اَغْبَرَ
يَمُدُّ
يَدَيْهِ
اِلَى
السَّمَاءِ:
يَا رَبّ، يَا
رَبّ، وَ
مَطْعَمُهُ
حَرَامٌ، وَ
مَشْرَبُهُ
حَرَامٌ، وَ
مَلْبَسُهُ
حَرَامٌ، وَ
غُذِيَ
بِاْلحَرَامِ،
فَاَنَّى
يُسْتَجَابُ
لِذلِكَ؟
مسلم 2: 703
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW
bersabda, “Hai para manusia, sesungguhnya Allah itu Baik (Suci). Tidak mau
menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada
orang-orang mukmin sebagaimana apa yang Dia perintahkan kepada para Rasul.
Allah berfirman, “Hai para Rasul, makanlah dari yang baik-baik (yang
halal) dan beramal shalih lah kalian. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap
apa-apa yang kalian kerjakan”. [Al-Mukminuun : 51]. Dan
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari yang
baik-baik apa yang Kami rezqikan kepada kalian”. [Al-Baqarah : 172].
Kemudian (Rasulullah SAW) menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sering
bepergian jauh, rambutnya acak-acakan lagi berdebu. Dia berdo'a dengan
mengangkat kedua tangannya ke langit, “Ya Tuhanku, Ya Tuhanku”.
Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia
dikenyangkan dengan barang yang haram. Maka bagaimana mungkin dia dikabulkan
doanya ?”. [HR. Muslim 2 : 703]
Dan disebutkan dalam hadits yang lain :
عَنْ
اَبِى
هُرَيْرَةَ
اَنَّ
رَسُوْلَ اللهِ
ص قَالَ:
اِذَا
اَدَّيْتَ
الزَّكَاةَ
فَقَدْ
قَضَيْتَ مَا
عَلَيْكَ، وَ
مَنْ جَمَعَ
مَالاً
حَرَامًا
ثُمَّ تَصَدَّقَ
بِهِ لَمْ
يَكُنْ لَهُ
فِيْهِ اَجْرٌ
وَ كَانَ
اِصْرُهُ
عَلَيْهِ.
الحاكم فى
المستدرك 1: 548،
رقم: 1440
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa menunaikan zakat, maka ia telah menunaikan kewajibannya. Dan
barangsiapa mengumpulkan harta dari jalan yang haram kemudian dia sedekahkan
harta itu, sama sekali dia tidak akan mendapat pahala, dan dosanya tetap akan
menimpanya. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 548, no
1440]
Dan sabdanya pula :
وَلاَ
يَكْسِبُ
عَبْدٌ
مَالاً مِنْ
حَرَامٍ
فَيُنْفِقُ
مِنْهُ
فُيُبَارَكُ
لَهُ فِيْهِ
وَلاَ
يَتَصَدَّقُ
بِهِ فَيُقْبَلُ
مِنْهُ وَلاَ
يَتْرُكُ
خَلْفَ
ظَهْرِهِ
اِلاَّ كَانَ
زَادَهُ
اِلَى
النَّارِ، اِنَّ
اللهَ عَزَّ
وَ جَلَّ لاَ
يَمْحُو السَّيّئَ
بِالسَّيّئ
وَ لكِنْ
يَمْحُو
السَّيّئَ
بِاْلحَسَنِ،
اِنَّ
اْلخَبِيْثَ
لاَ يَمْحُو اْلخَبِيْثَ.
احمد 2: 33، رقم: 3672
Tidaklah seorang hamba bekerja untuk mendapatkan harta
dengan jalan haram, lalu ia berinfaq dengannya, ia akan mendapatkan berkah, dan
tidak pula dia mensedeqahkannya, lalu akan diterima oleh Allah, dan tidak pula
ia tinggalkan di belakang punggungnya (sesudah ia meninggal), melainkan sebagai
perbekalan ke neraka. Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak akan menghapus
kejahatan dengan kejahatan, tetapi menghapus kejahatan dengan kebaikan.
Sesungguhnya kejelekan itu tidaklah dapat menghapuskan kejelekan.
[HR. Ahmad juz 2, hal. 33, no. 3672]



0 komentar:
Posting Komentar