Rabu, 02 Juli 2014

Empat Amanah Istimewa

Sudah sewajarnya dan memang itu adalah sunnatullah, ketika seseorang berjalan menuju syurga PASTI akan menemui rintangan dan halangan. Sebaliknya bagi yang keblinger bahwa neraka itu nikmat atau beranggapan neraka hanyalah sebagai cerita fiktif dari Rosululloh SAW, maka menuju kesana terasa mudah, ringan, nikmat dan penuh dengan dukungan dari siapapun.
Manusia atau lazimnya dalam Al Qur’an  disebut Insan, nas atau basyar mempunyai visi utama bahwa hidup didunia adalah sebagai lading pencarian bekal hidup di akherat. Kehidupan akherat yang abadi, penuh dengan keadilan dan tempat berkesudahan antara baik dan buruk, nikmat atau siksa.
Sebagai orang beriman yang sedang berusaha KERAS menuju taqwa, kita diberi amanah, dan ciri-ciri manusia bertaqwa adalah mampu mengemban amanah dengan baik. Secara global bahwa manusia diberi amanah untuk menghambakan diri kepada Allah SWT, menjadi khalifah di muka bumi dan berdakwah kepada yang ma’ruf serta menjauhi dengan sangat semua hal kemungkaran.
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ -١٣٣
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ -١٣٤
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ -١٣٥
133. dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri[229], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

[229] Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

(QS.Ali Imran 3 : 133-135)
Dari berbagai amanat dan kewajiban manusia beriman, ada beberapa macam yang terasa berat dan susah untuk ditunaikan. Dan ini sebenarnya bisa dilakukan (walau sulit) dan Allah SWT memberikan derajat yang mulia jika kita bisa melaksanakannya dengan baik dan maksimal. Empat Amanat yang Berat ditunaikan kebanyakan manusia tersebut adalah :
1. Memberi Maaf ketika Marah
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang.
Seringkali kita merasakan sesaknya dada, panasnya pikiran dan tergesanya indera-indera lainnya dalam memutuskan sesuatu ketika sedang marah.
Marah dalam hal baikpun perlu control management, karena seperti yang telah disampaikan dalam kajian bahwa marah adalah jalan favorit  syetan untuk gencar membisiki manusia.
Nah, ketika kondisi seperti itu terjadi maka “memberikan maaf” adalah kalimat yang susah sekali ditunaikan. Ketika emosi marah terjadi, kadang kita malah gelap mata ingin membalas perlakuan kedholiman kepada diri ini dengan sesuatu yang lebih dholim.
Dipukul sekali rasanya ingin membalas dengan pukulan berkali-kali dengan dalih agar jera. Berkata buruk dan kasar karena merasa didholimi, dan terkadang ucapan buruk kita melebihi dengan ucapan buruk yang kita terima. Itulah sebabnya memberikan maaf ketika marah sepertinya sulit diwujudkan. Padahal Allah SWT telah mengkabarkan jika kita mampu memberikan maaf maka itu lebih baik, dan itulah ciri-ciri hati manusia taqwa.
Tidak ada istilah “tiada maaf bagimu” atau istilah “biarlah memaafkan ini berlalu dengan waktu”. Allah SWT saja Maha Penerima Taubat, Rosululloh SAW dalam sirah selalu mencontohkan untuk memberikan maaf dengan atau tanpa permintaan dari sang pelaku.
Dan dalam ilmu psikologi, memberikan maaf akan memberikan rasa tentram di hati dan memberikan kesejukan dalam bermuamalah dan menyuburkan silaturrahim.
Bukankah tidak ada manusia yang bersih dari dosa?? Jadi seseorang yang bersalah kepada kita adalah sangat wajar. Dan kita juga sebaliknya bisa melakukan hal yang sama.
2. Berderma ketika Miskin
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,

Kenapa hal ini berat dilakukan? Karena banyak sekali diantara kita menganggap status miskin adalah status yang aman untuk berkata TIDAK dalam bersedekah. Untuk makanpun susah, apalagi harus berbagi dengan orang lain.
Ketika kita dan keluarga ini miskin seolah-seolah semua yang tersisa adalah barang berharga. Jadi imposible untuk memberikannya kepada orang lain atau memberikannya dijalan dakwah fisabilillah. Bahkan selalu memposisikan, saya adalah objek kedermawanan bukan sebagai subjek. Maka betul sekali! Bahwa ketika miskin atau susah, itulah kondisi paling sulit dalam menyambut himbauan infaq sedekah. Tetapi bagi sebagain orang yang nilai keimanannya kebih mantap, kemiskinan bukan menjadi masalah. Semua harta adalah titipan Allah SWT, adalah hal yang super sangat mudah bagi Allah SWT memberikan rizki kepada hambanya bahkan dengan tiba-tibapun.
Tidak ada istilah merasa bahwa “saya ini adalah termiskin didunia“. Ketahuilah semiskin apapun, masih banyak yang lebih susah dari kita. Nikmat Iman dan kesehatan adalah sesuatu yang tidak ternilai apalagi untuk diuangkan. Allah Maha Kaya, tidak Tidur dan selalu memperhatikan hamba-Nya yang secara maksimal mendermakan hartanya di jalan Allah SWT. Berbahagialah jika kita masuk kategori tersebut, hidup terasa benar-benar menikmati karunia Allah SWT. Bukankah Rasululloh SAW bukanlah seseorang yang kaya? Dan bagi yang kaya, kebakhilan dan kesombongan mengancam dirimu dan tidak ada jalan lain selain menjadi dermawan ketika kaya. Karena itulah jalan yang lurus menuju syurga.
3.       Meninggalkan yang Haram dan Dholim ketika sendirian
… Ya Rasulullah, apakah ihsan itu ?”. Rasulullah SAW bersabda, “Yaitu engkau takut kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu Melihatmu”. Orang itu berkata, “Engkau benar”…( [HR. Muslim juz 1, hal. 40]

Hal ketiga yang susah dilakukan adalah meninggalkan kedholiman ketika sendirian. Bukankah kita setiap tahun selama sebulan (ramadhan) kita ditempa untuk jujur, meninggalkan yang sesuatu padahal itu halal. Dan itu hanya diketahui oleh kita sendiri dan Allah SWT.
Meninggalkan kedholiman atau kemaksiatan secara bersama-sama di lingkungan sholeh adalah mudah, selain malu kepada Allah SWT kita juga akan merasa malu dan hina diketahui oleh orang lain.
Tetapi ketika sendirian, syetan lebih hebat lagi beraksi. Menjadikan akal sehat kita lupa, sesuatu yang haram ‘dibungkus’ seolah menjadi halal, yang jelas-jelas maksiyat bisa dilakukan dengan ringan dengan dalih tidak ada yang melihat, tidak ada yang dirugikan, darurat dan sebagainya.
Ingatlah selalu bahwa Allah itu Maha Melihat, Maha Tahu, Tidak Tidur dan semua yang bergerak didunia ini tidak lepas dari pengamatan Allah SWT walaupun hanya selembar daun di tengah hutan. Jikalau kita berdua, Allah SWT Hadir sebagai yang ketiga. Ketika kita sendiri, Allah menjadi yang kedua.
Maka betul sekali bahwa tingkatan ihsan adalah tertinggi, dimana kita selalu merasa dilihat oleh Allah SWT sehingga apa yang dilakukan dan apa yang disembunyikan didalam hati selalu jauh dari keinginan menyimpang dari jalan lurus, jalan menuju ridho Allah SWT.
4.       Berkata jujur kepada siapapun
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَاِنَّ الصّدْقَ يَهْدِى اِلىَ اْلبِرّ وَ اِنَّ اْلبِرَّ يَهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَتَحَرَّى الصّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدّيْقًا. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا. مسلم
Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013]
Lawannya jujur adalah dusta, pembohong. Berkata benar dan jujur kepada teman-teman sefaham di barisan kita mungkin hal yang sangat mudah.
Tetapi berkata benar dan jujur kepada seseorang yang tidak disukai atau kepada lawan adalah hal yang sulit. Kita harus berani mengatakan bahwa itu salah dan tidak benar walaupun itu berkaitan dengan seseorang yang kita cintai atau seseorang yang kita hormati.
Lidah ini kadang kelu ketika harus mengatakan ‘oh ya saya yang salah”..”gini pak, anda salah harusnya tidak seperti itu”…”saya tidak setuju karena itu tidak benar!” didepan seseorang yang kita segani.
Maka sebagai manusia beriman, harus berani berkata benar kepada siapapun dan dengan resiko apapun. Kejujuran yag menyakitkan lebih baik daripada kebohongan yang menipu dan menyenangkan.
Keberanian Abu bakar mengatakan kebenaran 100% terhadap isra mi”raj yang dilakukan Nabi patut ditiru, padahal hampir semua penduduk Mekah tidak percaya dan menertawakan Rosululloh SAW sebagai yang mengada-adakan cerita bohong.
Keberanian seorang anak gembala untuk mengatakan “dimanakah Allah ???” ketika sang khalifah Umar bin Khattab mencoba merayu ingin membeli domba diantara ratusan yang ada. Dan dipastikan itu tidak akan diketahui oleh siapapun termasuk sang pemilik. Tetapi anak gembala tersebut jujur dan berani.
Keberanian pemimpin Turki ketika mengatakan kebohongan dan kekejian negara Israel dalam dialog dengan pemimpinnya langsung ketika event negara-negara internasional adalah keberanian yang sekarang susah dicari, padahal saat itu tidak satu negarapun yang berani menyinggung ataupun membahas perkara ‘sensitif’ itu mengingat Israel selalu dilindungi Amrik (the real terrorist).
Jadi saatnya kita harus berlaku dan berkata jujur, kapanpun-dimanapun dan kepada siapapun.
Semoga kita termasuk manusia yang mampu memegang amanah. Amiin

Jangan Keras Kepala Dengan Menentang ALLOH SWT

Segala puji bagi Alloh, sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh para pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Salam untuk seluruh Nabi-nabi dan Seluruh Rasul-Rasul-Nya.
Manusia perlu mengedepankan pikiran dan rasa, untuk merenungi lebih mendalam tentang kehidupan. Janganlah manusia hanya sibuk membaca dan merenungi buku-buku yang ditulis dan dikarang manusia. Atau merasa cukup dengan mendengar ceramah-ceramah yang dikemukakan oleh manusia. Namun seharusnya manusia merenung dan kemudian mencari sendiri KEBENARAN HAQIQI yang ada di dalam KITAB SUCI AL-QUR’AN firman Alloh SWT.
Segala puji bagi Alloh, bila manusia bersungguh-sungguh ingin mencari KEBENARAN DARI SANG MAHA PENCIPTA SEMESTA ALAM, maka manusia haruslah segera berani untuk membaca dan menyelami ke dalam KITAB SUCI AL-QUR’AN.
Begitu beraninya manusia membaca kitab-kitab terkenal karangan manusia, mengapa ketika mereka dipersilahkan untuk segera membaca dan merenungi Al-QUR’AN mereka segera anti pati. Segala puji bagi Alloh, demikianlah tanda-tanda awal bila di dalam hati manusia telah bercokol syaitan laknatulloh.
Latar belakang tingkah laku manusia dengan kebiasaan-kebiasaan perbuatan benar dan baik, dan do’a do’a tulus yang baik yang mengenai seseorang, telah mampu membuka hati seseorang untuk segera berani membaca dan merenungi AL-QUR’AN, sebaliknya latar belakang manusia dengan kebiasaan-kebiasaan perbuatan buruk, atau kutukan-kutukan kepada seseorang, telah menjadi sebab manusia untuk sangat membenci dan anti pati untuk membaca dan merenungi AL-QUR’AN.
Berbahagialah kita-kita manusia yang memiliki nenek moyang yang sholeh, yang senantiasa hidupnya dipadati dengan perbuatan-perbuatan baik dan do’a-do’a yang dilantunkan dengan tulus ikhlas kepada Alloh SWT untuk anak cucunya, sehingga kita menjadi anak turun yang mendapat barokah dari do’a-do’a nenek moyang kita, sehingga kita dimudahkan untuk selalu mencintai baik untuk membaca, menghayati dan mengamalkan segala perintah Alloh SWT dalam AL-QUR’AN dan seharusnya kebaikan ini diteruskan untuk kebaikan anak turun kita, dan semoga akan berkumpul di surga Alloh di akherat kelak sebagaimana firman-Nya

وَالَّذِينَ صَبَرُواْ ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُواْ الصَّلاَةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلاَنِيَةً وَيَدْرَؤُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُوْلَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ ﴿٢٢﴾ جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ ﴿٢٣﴾ سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ﴿٢٤﴾


Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. 13:22)
(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (QS. 13:23)
(sambil mengucapkan):”Salamun ‘alaikum bima shabartum”.Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. 13:24)


إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ ﴿١٧﴾ فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ ﴿١٨﴾ كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئاً بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿١٩﴾ مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ ﴿٢٠﴾ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١﴾ وَأَمْدَدْنَاهُم بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ ﴿٢٢﴾ يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْساً لَّا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ ﴿٢٣﴾ وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ ﴿٢٤﴾ وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءلُونَ ﴿٢٥﴾ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦﴾ فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ ﴿٢٧﴾ إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ﴿٢٨﴾


Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga dan kenikmatan, (QS. 52:17)
mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (QS. 52:18)
Dikatakan kepada mereka):”Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, (QS. 52:19)
mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (QS. 52:20)
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)
Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. (QS. 52:22)
Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa. (QS. 52:23)
Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu seperti mutiara yang tersimpan. (QS. 52:24)
Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. (QS. 52:25)
Mereka berkata:”Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)”. (QS. 52:26)
Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (QS. 52:27)
Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya.Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS. 52:28)

Jadilah kita menjadi manusia-manusia yang selalu menekuni kebaikan, sebagai Nabi Ibrahim telah menekuni kebaikan sehingga Alloh telah memberikan do’a ijabah kepadanya dan telah memperkenankan doa yang dilantunkan untuk anak cucunya sebagaimana firman-Nya

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ ﴿١٢٨﴾

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak-cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 2:128)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـذَا الْبَلَدَ آمِناً وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ ﴿٣٥﴾

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata:”Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS. 14:35)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء ﴿٤٠﴾

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankan do’aku. (QS. 14:40)

Dengan selalu istiqomah di jalan kebaikan, manusia mendapat kesempatan untuk mendapatkan doa mustajab untuk mendoakan agar anak cucu selalu dalam jalan Alloh SWT. Kita berdoa pula kepada Alloh agar diri kita dan anak-anak turun kita bukan manusia-manusia yang keras kepala menentang Alloh SWT.
Dan pasti sikap-sikap keras kepala yang dimiliki oleh seseorang dapat menjadi bomerang yang menjadikan diri dan anak turunnya mejadi manusia-manusia yang terkutuk dan dihinakan oleh Alloh SWT sebagaimana dalam kisah umat Nabi NUH , sebagaimana dalam firman-Nya

1. Kisah Dakwah Nabi NUH

a. Nabi Nuh mengajak umatnya Untuk bertaqwa kepada Alloh saja

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١﴾ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ ﴿٢﴾ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ ﴿٣﴾ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاء لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan):”Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”. (QS. 71:1)
Nuh berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (QS. 71:2)
(yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, (QS. 71:3)
niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”. (QS. 71:4)

Para nabi dan para dai diperintah oleh Alloh untuk selalu menyadari diri bahwa dirinya itu adalah makhluq ciptaan Alloh SWT. Manusia bukan makhluq hebat yang ada dengan sendirinya, manusia perlu menyadari asal usul dirinya dan untuk apa dia dihidupkan.

b. Sikap umat Nabi Huh yang terkungkung dalam budaya salah tidak hirau dengan peringatan Nabi Nuh

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَاراً ﴿٥﴾ فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَاراً ﴿٦﴾ وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَاراً ﴿٧﴾

Nuh berkata:”Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, (QS. 71:5)
maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. 71:6)
Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mangampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. (QS. 71:7)

Sikap umat Nabi Nuh yang telah terbelenggu dengan perbuatan jahat dan budaya-budaya jahat, pikiran-pikiran jahat, memburu nikmat dunia dengan cara jahat, malah semakin berani unjuk gigi menentang dakwah nabi NUH

c.Nabi Nuh tidak putus asa dan terus memberi peringatan dan kabar gembira dan menunjukkan tanda-tanda Keagungan Alloh SWT

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَاراً ﴿٨﴾ ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَاراً ﴿٩﴾ فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً ﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً ﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً ﴿١٢﴾ مَّا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَاراً ﴿١٣﴾ وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَاراً ﴿١٤﴾ أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقاً ﴿١٥﴾ وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُوراً وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجاً ﴿١٦﴾ وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً ﴿١٧﴾ ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً ﴿١٨﴾ وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطاً ﴿١٩﴾ لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلاً فِجَاجاً ﴿٢٠﴾

Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, (QS. 71:8)
Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, (QS. 71:9)
maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” (QS. 71:10)
niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, (QS. 71:11)
dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS. 71:12)
Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah (QS. 71:13)
Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. (QS. 71:14)
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat (QS. 71:15)
Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (QS. 71:16)
Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, (QS. 71:17)
kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. (QS. 71:18)
Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, (QS. 71:19)
supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”. (QS. 71:20)

Nabi Nuh diperintah untuk memberikan penjelasan sejelas-jelasnya tentang jalan-jalan kebenaran, jalan-jalan iman dan amal sholih, jalan-jalan Taqwa, jalan-jalan bersyukur kepada Alloh, jalan-jalan ibadah kepada Alloh. Nabi Nuh diperintah untuk menjelaskan agar umat mengenal Alloh dan beribadah kepada Alloh.

d. Ternyata umat Nabi Nuh banyak yang tetap saja membangkang dan Keras kepala tetap dalam budaya yang salah.

قَالَ نُوحٌ رَّبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَن لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَاراً ﴿٢١﴾ وَمَكَرُوا مَكْراً كُبَّاراً ﴿٢٢﴾ وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدّاً وَلَا سُوَاعاً وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْراً ﴿٢٣﴾

Nuh berkata:”Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (QS. 71:21)
Dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (QS. 71:22)
Dan mereka berkata:”Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”, (QS. 71:23)

Setelah sekian lama Nabi Nuh berdakwah, ternyata respon umat nabi Nuh terhadap dakwah nabi Nuh sangat-sangat tidak hirau. Mereka orang-orang awam lebih suka untuk mengikuti dan mendukung orang-orang kaya diantara mereka, bahkan mereka terus menerus merasa bangga dengan kesalahan yang didukung dengan kehebatan dan kekayaan yang mereka miliki.

e. Umat Nabi Nuh mendapat balasan dari Alloh berupa KEBINASAAN dan kesengsaraan di dunia dan dia Akherat

وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيراً وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا ضَلَالاً ﴿٢٤﴾ مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَاراً فَلَمْ يَجِدُوا لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ أَنصَاراً ﴿٢٥﴾ وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّاراً ﴿٢٦﴾ إِنَّكَ إِن تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِراً كَفَّاراً ﴿٢٧﴾ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِناً وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلَا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلَّا تَبَاراً ﴿٢٨﴾


Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. (QS. 71:24)
Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah. (QS. 71:25)
Nuh berkata:”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (QS. 71:26)
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma’siat lagi sangat kafir. (QS. 71:27)
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan”. (QS. 71:28)

Nabi Nuh yang telah berdakwah sekian panjang (950 th) telah diabaikan umatnya, bahkan umatnya tidak mau mengikuti petunjuknya, bahkan menunjukkan pembangkangan dan sikap keras kepala yang luar biasa, sehingga kemudian Alloh berkenan menurunkan AZAB dan KEBINASAAN kepada umat Nabi NUH.

2. Balasan Akhir untuk manusia-manusia yang Membangkang kepada Alloh SWT

Segala puji bagi Alloh, manusia haruslah menyadari bahwa dirinya adalah makhluq yang amat lemah yang telah diciptakan dan diadakan di muka bumi untuk beribadah kepada Alloh SWT, untuk taat dan tunduk patuh kepada-Nya, dan bukan untuk merasa hebat diri dan menyeombongkan diri serta hidup diisi dengan bersenang-senang dalam kehebatan kejahatan.
Bila manusia terus menerus dalam kesombongan dan merasa hebat, serta membangkang kepada Alloh, maka azab dan siksa Alloh pasti tidak bisa dielakkan oleh manusia. Bila Alloh sudah memurkai manusia maka kebinasaanlah yang akan didapatkan, baik di dunia dan di akherat.

هَذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوْقِ رُؤُوسِهِمُ الْحَمِيمُ ﴿١٩﴾

Inilah dua golongan (golongan mu’min dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. (QS. 22:19)

Alloh benar-benar murka kepada hamba-hambanya yang telah diperintah untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya namum membangkang dan keras kepala tetap menyembah selain Alloh, maka Alloh akan melemparkan manusia-manusia pembangkang itu kepada siksa api neraka.

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ ﴿٢٠﴾ وَجَاءتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّعَهَا سَائِقٌ وَشَهِيدٌ ﴿٢١﴾ لَقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ ﴿٢٢﴾ وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿٢٣﴾ أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ ﴿٢٤﴾ مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُّرِيبٍ ﴿٢٥﴾ الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ ﴿٢٦﴾ قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِن كَانَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ ﴿٢٧﴾ قَالَ لَا تَخْتَصِمُوا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ إِلَيْكُم بِالْوَعِيدِ ﴿٢٨﴾ مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ﴿٢٩﴾ يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ ﴿٣٠﴾

Dan ditiuplah sangkakala.Itulah hari terlaksananya ancaman. (QS. 50:20)
Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat, penggiring dan seorang malaikat penyaksi. (QS. 50:21)
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam. (QS. 50:22)
Dan yang menyertai dia berkata:”Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku”. (QS. 50:23)
Allah berfirman:”Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, (QS. 50:24)
yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, (QS. 50:25)
yang menyebah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”. (QS. 50:26)
Yang menyertai dia berkata (pula):”Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. (QS. 50:27)
Allah berfirman:”Janganlah Kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu”. (QS. 50:28)
Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (QS. 50:29)
(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada jahannam:”Apakah kamu sudah penuh” Dia menjawab:”Masih adakah tambahan” (QS. 50:30)

Kapan manusia akan tersadar bahwa keadaan diri manusia memiliki dua kemungkinan, bila mereka menjadi hamba-hamba yang menempuh jalan-jalan yang dicintai Alloh, maka mereka akan berakhir di tempat yang menyenangkan dan bahagia (Jannah, Surga).
Sebaliknya bila mereka terjerumus dalam lingkungan kejahatan dan selalu berbuat jahat dan keras kepala kepada Alloh Tuhan Semesta Alam, maka mereka akan dikumpulkan di suatu tempat yang disitu selalu dipenuhi dengan gejolak api dan siksa serta kesengsaraan (Naar, Neraka).
Janganlah kita biarkan diri kita membaca buku-buku sekedar karangan manusia yang akan membawa kita kepada keyakinan yang salah. Kesalahan kita dalam meyakini arti kehidupan akan membawa jalan hidup yang salah dan akhir hidup yang celaka. Dengan kerajinan kita membaca Al-Qur’an dan mengikuti petunjuk-Nya semoga Alloh SWT meneguhkan kita dalan jalan keselamatan, kebahagiaan, jalan ampunan dan rahmat-Nya.   Wallohu a’lam

Selasa, 01 Juli 2014

Beramal untuk mencari ridla Allah


Materi
Nafar Ramadlan 1435 H

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَ نُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. الانعام: 162
Katakanlah, "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, [QS. Al-An'aam : 162]

Beramal untuk mencari ridla Allah
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ.
اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّاٰتِ اَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, ibadah kita, amal kita tidak akan diterima oleh Allah SWT kalau tidak kita lakukan dengan ikhlash karena Allah dan untuk mencari ridla Allah. Allah SWT berfirman :
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَ نُسُكِيْ وَ مَحْيَايَ وَ مَمَاتِيْ للهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ(162) لَا شَرِيْكَ لَه، وَ بِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ(163) الانعام: 162-163
Katakanlah, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (162)
tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (163) [QS. Al-An'aam : 162-163]
Allah tidak mau menerima amal seseorang kecuali yang dilakukan dengan ikhlash karena Allah. Dalam hadits di sebutkan :
عَنْ اَبِى اُمَامَةَ اْلبَاهِلِيِّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلىَ النَّبِيِّ ص فَقَالَ: اَ رَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ اْلاَجْرَ وَ الذِّكْرَ، مَا لَهُ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَا شَيْئَ لَهُ. فَاَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ. يَقُوْلُ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَا شَيْئَ لَهُ. ثُمَّ قَالَ: اِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ اْلعَمَلِ اِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَ ابْتُغِيَ بِه وَجْهُهُ. النسائى 6: 25
Dari Abu Umamah Al-Bahiliy, ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, "Bagaimanakah pendapat engkau apabila ada seorang laki-laki berperang untuk mencari pahala dan nama ? Lalu apa yang ia dapat ?". Maka Rasulullah SAW bersabda, "Ia tidak mendapatkan apa-apa". Orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan Rasulullah SAW menjawab, "Ia tidak mendapatkan apa-apa". Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak mau menerima amal kecuali amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mencari keridlaan-Nya". [HR. Nasai juz 6, hal. 25]
Dan dalam hadits yang lain disebutkan :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ: اَنَا اَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا اَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ. مسلم 4: 2289
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Allah Tabaaroka wa Ta'aalaa berfirman, "Aku tidak mau dipersekutukan. Barangsiapa beramal suatu amal yang mana didalamnya ia menyekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan ia pada sekutunya itu". [HR. Muslim juz 4, hal. 2289]
Oleh karena itu Allah tidak mau menerima amal ibadahnya orang munafiq. Allah SWT berfirman :
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخدِعُوْنَ اللهَ وَ هُوَ خَادِعُهُمْ، وَ اِذَا قَامُوْآ اِلىَ الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰى يُرَآءُوْنَ النَّاسَ وَ لَا يَذْكُرُوْنَ اللهَ اِلَّا قَلِيْلًا. النسآء: 142
Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [QS. An-Nisaa' : 142]
Bahkan di dalam hadits disebutkan bahwa ada tiga golongan yang pada tata lahirnya mereka itu beramal baik, tetapi karena dilakukan karena riya', menginginkan pujian orang, maka di akhirat Allah tidak mau menerima amalnya dan akhirnya mereka dimasukkan ke neraka.
عَنْ اَبىِ هُرَيْرَةَ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اُسْتُشْهِدَ فَاُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا ؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْـكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ. وَلٰكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِاَنْ يُقَالَ جَرِئٌ فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ اُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فِى النَّارِ. وَ رَجُلٌ تَعَلَّمَ اْلعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَ قَرَأَ اْلقُرْاٰنَ فَاُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْـتَ فِيْهَا ؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ اْلعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَ قَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْاٰنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلٰكِـنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَ قَرَأْتَ اْلقُرْاٰنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيْلَ. ثُمَّ اُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فىِ النَّارِ. وَ رَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَ اَعْطَاهُ مِنْ اَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَاُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا ؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ اَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا اِلَّا اَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلٰكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ، ثُمَّ اُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلىَ وَجْهِهِ ثُمَّ اُلْقِيَ فِى النَّارِ. مسلم 3: 1514
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya yang pertama-tama akan diberi keputusan pada hari qiyamat ialah seorang yang mati syahid, lalu ia dibawa dan dihadapkan kepada nimatnya, maka ia mengakuinya. Allah berfirman, "Apakah yang kau lakukan padanya ?". Dia menjawab, "Saya telah berjuang untuk-Mu hingga mati syahid". Allah berfirman, "Kamu berdusta, tetapi kamu berjuang supaya disebut sebagai pahlawan dan pemberani. Dan telah dikatakan orang yang demikian itu". Kemudian diperintahkan (kepada malaikat), lalu dia diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka.
(Kedua) seorang yang belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur'an, lalu dihadapkan kepada nimatnya, maka dia mengakuinya. Allah berfirman, "Apakah yang kau lakukan padanya ?". Dia menjawab, "Saya mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur'an hanya untuk-Mu". Allah berfirman, "Kamu berdusta, tetapi kamu mempelajari ilmu supaya disebut sebagai seorang yang 'alim, dan kamu membaca Al-Qur'an supaya disebut sebagai seorang yang pandai membaca Al-Qur'an, dan telah dikatakan orang yang demikian itu". Kemudian diperintahkan (kepada Malaikat), lalu dia diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka.
(Ketiga) seorang hartawan yang diberi keluasan kekayaan yang bermacam-macam oleh Allah, lalu dihadapkan kepada nimatnya, maka dia mengakuinya. Allah berfirman, "Apakah yang kamu lakukan padanya ?". Dia menjawab, "Tidak satu jalanpun yang Engkau sukai agar jalan itu diberi harta, melainkan sudah saya beri dengan harta itu semata-mata untuk-Mu". Allah berfirman, "Kamu dusta, tetapi kamu berbuat yang demikian itu, agar dikatakan sebagai orang yang dermawan, dan telah dikatakan orang yang demikian itu". Kemudian diperintahkan (kepada Malaikat), lalu dia diseret pada mukanya dan dilemparkan ke neraka". [HR. Muslim juz 3, hal. 1514]
Dalam hadits lain disebutkan :
عَنْ مَحْمُوْدِ بْنِ لُبَيْدٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَخْوَفُ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمْ اَلشِّرْكُ اْلاَصْغَرُ. قَالُوْا: وَمَا الشِّرْكُ اْلاَصْغَرُ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: اَلرِّيَاءُ يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ اِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِاَعْمَالِهِمْ اِذْهَبُوْا اِلىَ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تُرَاءُوْنَ فىِ الدُّنْيَا فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟ احمد 5: 428
Dari Mahmud bin Lubaid, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, Sesuatu yang paling aku khawatirkan atas kamu sekalian itu adalah syirik kecil. Kemudian para shahabat bertanya, Apa syirik kecil itu ya Rasulullah ?. Rasulullah SAW menjawab, (Syirik kecil itu ialah) riya. Besok pada hari qiyamat ketika para manusia diberi balasan dengan amal-amal mereka, Allah azza wa jalla akan berfirman kepada mereka, Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang dahulu kamu berbuat riya padanya ketika di dunia, maka lihatlah olehmu sekalian apakahkamumendapatipahalapadamereka ?. [HR. Ahmad, juz 5 : 428]
Dalam hadits disebutkan :
عَنْ اَبِى مُوْسَى رض قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلىَ النَّبِيِّ ص فَقَالَ: الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ وَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِى سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: مَنْ قَاتَلَ لِتَكُوْنَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ اْلعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيْلِ اللهِ. البخارى 3: 208
Dari Abu Musa RA, ia berkata : Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW lalu bertanya, "Ada orang yang berperang supaya mendapatkan harta rampasan, ada lagi orang yang berperang untuk mendapat sebutan (cari nama), dan ada lagi orang yang berperang supaya dipuji orang (sebagai pemberani), siapa diantara mereka itu yang termasuk dijalan Allah ?. Maka Rasulullah SAW menjawab, "Barangsiapa yang berperang agar supaya kalimat Allah itu yang paling tinggi, maka dialah yang (berperang) dijalan Allah". [HR. Bukhari juz 3, hal. 206]
Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah, oleh karena itu hendaklah semua ibadah dan amal kita, kita lakukan dengan ikhlash untuk mencari ridla Allah SWT, karena amal perbuatan itu akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya, Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّمَا اْلاَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَ اِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ اِلىَ دُنْيَا يُصِيْبُهَا اَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ اِلىَ مَا هَاجَرَ اِلَيْهِ. البخارى 1: 2
Dari Umar bin Khaththab RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang berhijrah karena menginginkan keuntungan dunia yang akan didapatnya atau karena menginginkan wanita yang dia akan mengawininya, maka hijrahnya itu akan mendapatkan sesuai apa yang ia berniat hijrah padanya". [HR. Bukhari juz 1, hal. 2]
Dan Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِص: اِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ اِلىَ صُوَرِكُمْ وَ اَمْوَالِكُمْ وَ لٰكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُمْ وَ اَعْمَالِكُمْ. مسلم 4: 1987
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan harta-bendamu, tetapi Allah melihat (menilai) pada hatimu dan amalmu". [HR. Muslim juz 4, hal. 1987]
Rasulullah SAW mengetengahkan contoh orang yang beramal ikhlash sebagai berikut. :
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى اَوَوُا الْمَبِيْتَ اِلىَ غَارٍ فَدَخَلُوْهُ. فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ اْلجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ اْلغَارَ. فَقَالُوْا: اِنَّهُ لَا يُنْجِيْكُمْ مِنْ هٰذِهِ الصَّخْرَةِ اِلَّا اَنْ تَدْعُوا اللهَ بِصَالِحِ اَعْمَالِكُمْ. فقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اَللّٰهُمَّ كَانَ لِى اَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ وَ كُنْتُ لَا اَغْبِقُ قَبْلَهُمَا اَهْلًا وَ لَا مَالًا فَنَأَى بِى فِى طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا فَلَمْ اُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوْقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ وَ كَرِهْتُ اَنْ اَغْبِقَ قَبْلَهُمَا اَهْلًا اَوْ مَالًا، فَلَبِثْتُ وَ اْلقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ اَنْتَظِرُ اِسْتِيْقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ فَاستَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوْقَهُمَا، اَللّٰهُمَّ اِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذٰلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هٰذِهِ الصَّخْرَةِ. فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ اْلخُرُوْجَ. قَالَ النَّبِيُّ ص وَ قَالَ اْلاٰخَرُ: اَللّٰهُمَّ كَانَتْ لِى بِنْتُ عَمِّ كَانَتْ اَحَبَّ النَّاسِ اِلَيَّ، فَاَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا فَامْتَنَعَتْ مِنِّى حَتَّى اَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِيْنَ فَجَاءَتْنِى فَاَعْطَيْتُهَا عِشْرِيْنَ وَ مِائَةَ دِيْنَارٍ عَلَى اَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِى وَ بَيْنَ نَفْسِهَا فَفَعَلَتْ حَتَّى اِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا قَالَتْ: لَا اُحِلُّ لَكَ اَنْ تَفُضَّ اْلخَاتَمَ اِلَّا بِحَقِّهِ. فَتَحَرَّجْتُ مِنَ اْلوُقُوْعِ عَلَيْهَا فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَ هِيَ اَحَبُّ النَّاسِ اِلَيَّ وَ تَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِى اَعْطَيْتُهَا، اَللّٰهُمَّ اِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذٰلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ غَيْرَ اَنَّهُمْ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ الْخُرُوْجَ مِنْهَا. قَالَ النَّبِيُّ ص وَ قَالَ الثَّالِثُ: اَللّٰهُمَّ اِنِّى اسْتَأْجَرْتُ اُجَرَاءَ وَ اَعْطَيْتُهُمْ اَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذِى لَهُ وَ ذَهَبَ فَثَمَّرْتُ اَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ اْلاَمْوَالُ، فَجَاءَنِى بَعْدَ حِيْنٍ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ، اَدِّ اِلَيَّ اَجْرِى. فَقُلْتُ لَهُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ اَجْرِكَ مِنَ اْلاِبِلِ وَ اْلبَقَرِ وَ اْلغَنَمِ وَ الرَّقِيْقِ. فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللهِ، لَا تَسْتَهْزِئْ بِى. فَقُلْتُ: اِنِّى لَا اَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَاَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا، اَللّٰهُمَّ فَاِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذٰلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوْا يَمْشُوْنَ. البخارى 3: 51
Dari Abdullah bin 'Umar RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Pada masa dahulu sebelum kalian ada tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam di dalam gua tersebut. Setelah mereka itu masuk ke dalam gua itu, tiba-tiba jatuh sebuah batu besar dari atas bukit dan menutup pintu gua itu. Lalu mereka berkata, "Sesungguhnya tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu sekalian dari bahaya batu ini, kecuali kalian berdo'a kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah kamu lakukan. Kemudian salah seorang diantara mereka berdo'a, "Ya Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua, dan saya biasa tidak memberi minuman susu diwaktu petang kepada seorangpun sebelum kepada keduanya, baik kepada keluarga atau hamba sahaya. Dan pada suatu hari, saya pergi agak jauh karena mencari sesuatu sehingga tidak bisa kembali kepada kedua orangtuaku kecuali sudah larut malam dan ayah ibu saya sudah tidur. Kemudian saya memerah susu untuk keduanya. Lalu saya mendapati kedua orangtuaku sedang tidur nyenyak dan sayapun tidak mau membangunkan keduanya, dan sayapun tidak suka memberikan minuman itu kepada siapapun sebelum kepada keduanya, baik kepada keluarga maupun kepada hamba sahaya. Maka saya tetap menunggu bangunnya ayah dan ibuku dengan membawa bejana wadah susu itu menunggu mereka bangun hingga terbit fajar. Kemudian ayah dan ibuku bangun lalu minum susu yang saya perah itu. Ya Allah, jika saya berbuat itu benar-benar karena mengharapkan keridlaan-Mu, maka keluarkanlah kami dari bahaya batu ini". Lalu batu itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu. Nabi SAW bersabda : Dan orang yang lain (orang yang kedua) berdoa, "Ya Allah, dahulu saya pernah jatuh cinta pada seorang gadis anak paman saya. Saya sangat mencintainya, sampai saya ingin berzina dengannya, tetapi dia selalu menolak. Pada suatu hari, tibalah tahun paceklik dan wanita yang sangat saya cintai itu datang (minta bantuan) kepada saya, maka saya berikan kepadanya uang seratus dua puluh dinar dengan janji bahwa ia mau menyerahkan dirinya kepada saya. Kemudian ia pun memenuhi janjinya, dan ketika saya berleluasa padanya, ia berkata, "Tidak halal bagimu memecahkan tutup kecuali dengan haqnya !". Lalu saya tidak jadi menyetubuhinya, dan saya tinggalkan ia, padahal saya sangat mencintainya, dan saya biarkan uang emas yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah, jika saya berbuat yang demikian itu semata-mata mengharap keridlaan-Mu, maka keluarkanlah kami dari bahaya ini". Lalu batu itu bergeser sedikit, tetapi mereka tetap belum bisa keluar dari gua itu. Nabi SAW bersabda : Dan orang yang ketiga berdo'a, "Ya Allah, dahulu saya mempunyai banyak buruh dan karyawan. Dan pada waktugajian, saya telah memberikan gajinya kepada mereka itu, kecuali satu orang yang belum saya berikan gajinya, karena dia pergi dan tidak mengambil gajinya itu. Kemudian gaji orang tersebut saya kembangkan sehingga menjadi harta yang banyak. Kemudian setelah waktu yang lama, orang itu datang kepada saya dan berkata, "Hai hamba Allah, berikanlah gaji saya !". Lalu aku menjawab, "Semua yang kamu lihat itu dari gajimu, berupa onta, sapi, kambing dan budak penggembala itu". Orang itu berkata, "Hai hamba Allah, janganlah kamu mengejek kepadaku". Lalu saya berkata, "Sungguh saya tidak mengejek kepadamu". Lalu dia mengambil semuanya itu dan menggiringnya, dan tidak meninggalkan sedikitpun dari semua itu. Ya Allah, jika saya berbuat yang demikian itu semata-mata mengharap keridlaan-Mu, maka keluarkanlah kami dari bahaya ini". Kemudian batu itu bergeser lagi sehingga mereka bisa keluar, lalu mereka keluar dan pulang dengan berjalan. [HR. Bukhari juz 3, hal. 51]
Demikianlah semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang beramal dengan ikhlash, dan semoga Allah mengampuni kita, Aamiin.

Popular Posts

 

© 2013 Hany My Blog. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top